Pages

Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts

Tuesday, June 2, 2015

... after all these years


There were little voices inside my head that kept on telling me:
'... Maybe one or two little cuts won't hurt this much... ',
' look at how worthless you are, nobody's gonna love you... ', '... You little piece of shit ',

etc.

You stopped them. And words can't describe how much I love you for that................. But now they're back. 'Cause in the end, I'm still a good-for- nothing, even in your eyes.


Tuesday, June 24, 2014

My life with dogs ...


Sekitar dua mingguan yang lalu, mama ada komentar, ketika aku lagi angkat bag dogfood, untuk dipindah ke container Tupperware. Dia bertanya tentang harganya dan apakah mahal... Aku tidak menjawab, karena aku tahu pasti ujung-ujungnya kritik. Tak perlu tunggu lama, kalimat berikutnya yang keluar dari dia adalah betapa sayangnya buang-buang uang untuk beli dogfood, dan tidak ada untungnya memelihara anjing-anjing. 
Bukan sekali ini dia berpendapat begitu... Sebenarnya sudah berkali-kali pula dari sejak kecil dia merasa tidak ada untungnya memelihara anjing. She's not a dog person... Dia lebih berpikir punya peliharaan itu sebagai properti, bukan teman. Mungkin dia sebel banget kali ya, ada satu anaknya yang ini, yang ngeyel banget suka anjing... :D
Zoro - Acel - Puppi
Ya, sekarang ini aku punya 3 ekor anjing di rumah, yang menjadi full responsibility'ku untuk memberi mereka makan. 
Ya, memang aku tidak mendapatkan keuntungan materi apapun dari mereka, karena aku tidak pernah berencana untuk memperanakkan mereka. Toh anjing-anjingku bukan anjing kompetisi. 
Anjing-anjing gak jelas malah... Satu Maltese tanpa stambum. Satu mixed-bred, chow-chow x labrador. Satu lagi, well... gak jelas rasnya apa :p . Gak yakin bakal ada yang mau anakan mereka hihihihi....

Jadi memang, mereka tidak menghasilkan uang. Bahkan mungkin secara materi, aku keluar lumayan banyak untuk mereka, karena dogfood pun aku usahakan bukan yang berkualitas rendah. Tidak sanggup untuk beli yang kualitas super premium juga sih, tapi kuusahakan bukan yang dapat rating rendah juga. Untung ada discount karena langganan juga sih, jadi sedikit membantu harga untukku dikurangin dikit. Tetap saja, bukan harga yang murah. Karena ada yang anjing besar juga, makannya banyak. :p Jadi dalam sebulan kadang bisa harus beli 2 bags. Belum kalau harus check ke vet, atau grooming di salon. Dengan gaji seorang karyawan yang tidak banyak, tentu pengeluaran untuk mereka termasuk cukup lumayan. Kira-kira 20% dari bulanan deh. Kadang untuk mengakali budget yang ketat, terkadang aku juga harus memberi mereka makanan-makanan sisa. Grooming juga tidak bisa rutin. 

Jadi apa untungnya memiliki peliharaan ini?
Aku juga tidak tahu, apa sebab awalnya kok bisa aku jadi dogslover. Waktu kecil juga bukan aku yang meminta ingin punya anjing. Tapi karena memang papa duluan yang membawa pulang seekor anjing yang terlantar di jalan. Dalam hal ini, i am grateful that my dad taught me to be compassionate with strays. Punya anjing tidak harus anjing ras. Anjing kampung pun, sama-sama anjing dan punya hati yang sama sebagai seekor anjing. 
Masa kecil, aku lebih sering sendiri. Karena orang tua juga bekerja full time. Jarang ada quality time dihabiskan bersama. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa akhirnya anak-anak diberi peliharaan anjing, biar jadi teman .... Mungkin mamaku nyesel kali ya, akhirnya ada satu yang kebablasan jadi gak bisa hidup tanpa anjing. :p 

Dulu meskipun di rumah ada anjing, aku tidak bisa membela mereka dengan sepenuhnya. Mama lebih suka anjing-anjing berada di dalam kandang besi. Tidak lari kesana kemari dengan bebas. Yaaa karena dulu aku masih kecil, dan tidak punya kebebasan ekonomi sendiri, terpaksa menurut. Meskipun kalau misalnya aku sudah pulang dari rumah, aku lepaskan. Pernah juga ada saatnya, ketika masa SMA, tidak punya anjing. Karena anjing-anjing sebelumnya sudah meninggal, atau ada yang dikasih ke orang untuk pemeliharaan yang lebih baik. Waktu itu juga meskipun aku bisa menyibukkan diri dengan sekolah atau dengan pacar, tetap saja rasanya sepi, ketika malam hari sendirian. 

I am shy... Tidak mudah bagiku untuk bisa nyaman dengan orang lain. Entah kenapa, I always unknowingly created barriers. Mungkin takut. Karena sudah banyak hal-hal yang buruk terjadi di dalam hidupku, yang membuat aku trauma. Sebenarnya sudah dari kecil aku punya symptoms ke clinical depression. Masa tumbuh besarku, meskipun berkecukupan, but I was lonely. Banyak hal-hal yang kusaksikan sewaktu aku tumbuh besar, yang membuat aku kecewa dan skeptical akan kebahagiaan. Sering aku merasa bahwa aku tidak diinginkan. Apa itu kebahagiaan....? Aku tidak punya energi banyak untuk mencari tahu, yang kuinginkan hanyalah orang menginginkanku. 
Aku juga mengidap social anxiety disorder, aku jadi tidak punya banyak teman. Keluargaku, kalau bisa dibilang, kami tidak seperti keluarga ideal pada umumnya, yang bisa punya ikatan bonding satu sama lain. We're basically all alone, but stuck as a family. 

Paling parah adalah ketika akhirnya aku ke Aussie untuk kuliah. Makin tertantang untuk survive seorang diri. Meskipun ada beberapa teman kuliah, kondisiku memang tetap membuat aku tidak bisa begitu mudah nyaman dan akrab dengan orang lain. Don't get me wrong, I'd love to have friends.. Kalau orang bisa sampai bisa masuk and gain my trust, aku bisa jadi orang paling baik and do everything for them. 
Tapi untuk bisa sampai kesitu, umumnya orang tidak mau keluar effort sebanyak itu untuk menjebol barrier-barrier yang kuciptakan. Mungkin memang gak worth it ..... So I spent years all alone. 

Jadi pada saat kuliah itu lah, aku benar-benar punya keinginan, I had to have dog. Kalau tidak aku bisa gila .... Roommate saat itu juga punya anjing, jadi aku makin ingin untuk punya anjingku sendiri. I didn't want to come home feeling all lonely anymore. Aku membeli seekor anak anjing, ketika aku sendiri tidak yakin apakah bisa menjaganya. Memang aku bisa memberi dia makan, tapi aku tidak yakin apakah aku bisa menjadi tuan yang baik buatnya. Mungkin memang egois alasanku saat itu untuk memiliki anjing, seakan-akan aku ingin punya mereka untuk memenuhi keinginanku sendiri, di saat aku sendiri tidak yakin bisa memenuhi kebutuhan dia. Kondisiku menjadi semakin parah dan banyak peristiwa yang terjadi membuat aku semakin crippled untuk bertahan hidup. I had to give away my dog to other friend, yang bisa memberi kehidupan yang lebih baik, untuk kebaikan anjing itu. Lalu aku pulang ke Indonesia, ke rumah orang tua, setelah tidak ada lagi yang bisa kulakukan di Aussie, dengan kondisi mental hancur. Sudah ke tahap suicidal, tidak ada lagi yang membuatku ingin tetap hidup. 

Pada saat itu, di rumah sudah ada 2 ekor anjing itu. Anjing pertama, yang mixed-bred chowchow x labrador, adalah pemberian dari teman mama. Mama sebenarnya tidak masalah punya anjing, asal sebatas properti. Dan sebenarnya yang lebih banyak mengasuh adalah kokoku, yang saat itu sudah selesai kuliah dan kembali ke rumah. Anjing kedua, maltese tanpa stambum itu, juga kokoku yang membeli. Aku sudah pernah bertemu mereka berkali-kali, ketika aku pulang liburan musim panas. Jadi ketika aku kembali permanently ke rumah, anjing-anjing ini tidak merasa canggung untuk menyambutku pulang. 

Jadi, di dalam kondisi terpuruk itu, aku seperti hidup dan mati. Tidak ada energi sedikitpun untuk bangkit. I spent most of the times, locking myself in my bedroom, wishing I wouldn't wake up again. Keluargaku sama sekali tidak punya pengalaman untuk dealing with what I have, and I pushed them away too. I couldn't trust anyone. They hoped aku akan bangkit dengan sendirinya, eventually.... Di saat-saat gelap itu, anjing-anjing kokoku tidak pernah punya prejudice apapun. Mereka tetap menyambutku ketika akhirnya aku keluar dari kamar. Mereka tetap menggoyangkan ekornya ketika aku mendiamkan mereka. Dan mereka tetap ada di sampingku, ketika aku menangis. Itulah kehebatan makhluk ini ... They never judge. They'll be there no matter what. Meskipun aku di saat itu tidak bisa berbuat apapun untuk mereka, mereka tetap mau menghampiriku, dan terkadang berbaring di sampingku. Merekalah, yang membuat aku bertahan. And I am grateful that God lets me to have dogs. 

Perlahan aku bangkit, mungkin dengan alasan yang hanya sepele. Kokoku sudah berkeluarga, dan meskipun aku memegang prinsip kalau sudah berkeluarga, bukan berarti peliharaan tidak lagi dijaga, aku pun tidak berhak memaksa kokoku untuk tetap membiayai anjing-anjing itu. Mungkin perlahan aku memakai keberadaan anjing-anjing itu, untuk pijakan. Aku memutuskan untuk mencari kerja, karena aku ingin punya uang untuk tetap dapat membiayai mereka. Perlahan dengan hadirnya anak-anak di keluarga kokoku, aku juga mengambil alih anjing-anjing itu. Sekarang, mereka lengket mengikutiku kemanapun aku berada di rumah. 

2010, mungkin menjadi tahun yang benar-benar merubah hidupku. Di saat perlahan aku bangkit, hadir pula seseorang itu yang secara hebatnya mampu mendobrak segala barriers tebal yang kubangun, sehingga aku benar-benar merasakan, this is love. Bukan cinta semu yang kualami bersama mantan-mantan yang lain. Dan dari orang inilah, aku mendapat hadiah seekor anjing lagi. Anjing yang special, meskipun bukan anjing mahal. Meski akhirnya hubungan itu harus kandas dengan tragis pula, tapi aku punya kenangan yang indah dan anjing pemberian itu yang selalu menjadi my treasure

... my Zorro ...

Jadi apa untungnya aku tetap ngotot memelihara anjing-anjing itu ?
Mungkin aku bisa lebih kaya, lebih punya banyak uang tanpa mereka. Mungkin lebih mudah juga mencari pendamping, (meskipun secara pribadi aku tidak terlalu ingin mencari lagi juga). Must love dogs, menjadi syarat utama yang tidak bisa dihapus. 
Mengapa aku ngotot tetap memilih mereka....?

Karena sebenarnya dari merekalah, aku belajar untuk hidup, dan mencintai. Tidak terhitung banyaknya aku mengecewakan mereka,... sampai sekarang pun masih. Ketika ada saatnya aku terlalu lemah, dan aku tidak mempunyai energi untuk bermain dengan mereka, mereka tetap mendampingiku, tidur di sampingku. Dan menyambutku dengan senyum lebar keesokan harinya ketika aku bangun tidur, seolah semalam ketika aku tidak memberi mereka perhatian, tidak menjadi masalah bagi mereka.
Mereka juga mengajarkanku untuk tidak mendendam. Meskipun terkadang aku memarahi mereka, mereka tidak lama untuk kembali tersenyum lagi kepadaku. 
Mereka tetap menantikanku, ketika aku harus pergi dari rumah separuh hari untuk bekerja, sehingga mereka harus sendirian di rumah, mereka tidak marah. Di saat aku pulang, mereka tetap menyambutku dengan ramai sekali, no hard feelings. Sepertinya highlight of my days setiap harinya selalu adalah 2 menit dari saat aku menekan bel pintu, dan melihat mereka lari menyongsongku. 
Anjing memberi banyak pelajaran baik dalam hidup, dimana manusia pun terkadang tidak bisa melakukannya. 

Tidak ada keraguan dalam hatiku untuk menyatakan, they love me. It's something that I need. And I love them. Meskipun kami tidak bisa mengerti satu sama lain, tidak ada komunikasi verbal yang berarti, tapi kami tahu, we love each other. 
Dan kalaupun ketika pada saatnya mereka nanti tidak ada, jika kondisi memungkinkan, aku akan tetap memiliki anjing. Apapun kondisinya, aku akan tetap menjadi seorang dogslover. 


Tuesday, April 15, 2014

Why can't people stop littering?


I hate to litter. I am not a clean-freak person; in fact, most of the times I have a messy and quite dirty room 'cause it's a bit hard to keep up to be neat when you're living with three spoiled dogs running around. But still, I don't like to litter, especially in public places. I don't like to see people litter consciously. And even harder when it's your own family apparently likes to litter, in this case, my own mom.

Sebenarnya saya sudah tahu, kalau keluarga saya juga bukan pengikut Go Green Life atau Environmental Friendly People. Bertahun-tahun saya mencoba untuk mengajak keluarga untuk memakai reusable bags ketika belanja, sampai sekarang ini juga masih belum berhasil, mereka masih favorit dengan kantung plastik, yang ujung-ujungnya jadi menumpuk di rumah, nanti malah jadi sampah tempat persembunyian tikus. 
Masalah sampah memang seringkali disepelekan. Kebanyakan dari kita tentu tidak tahu, sampah kita nanti lari kemana. General knowledge sih ya diangkut oleh para pemulung di tempat pembuangan akhir, yang kita juga tidak tahu kan nanti kemana, apakah bisa direcycle atau dihancurkan, atau tetap jadi sampah yang makin hari membusuk ? Jujur saya pun tidak tahu, sampah-sampah saya juga akan end up kemana... Tapi alangkah naif kalau karena alasan itu, kita lantas tidak peduli kemana kita harus membuang sampah.

Cerita ini benar-benar terjadi, tanpa bermaksud untuk menjelek-jelekkan keluarga saya sendiri. Ya tapi karena ini kenyataan... Few weeks ago, I was on a road trip with my family to visit my grandparents' graves. In a car, for 6-7 hours... Seperti biasa kalau sedang road trip, kami selalu membawa cemilan, makanan & minuman, terutama snack-snack untuk keponakan-keponakan saya yang masih kecil-kecil. Mama saya adalah orang yang rajin banget bawa makanan dalam perjalanan. Tapi ketika makanan itu sudah habis, tinggal bungkus-bungkus plastik / daun, dengan gampangnya dia buka jendela dan *wuzz..* buang.... Tidak hanya sekali-dua kali, ini memang benar terjadi setiap saat. Buka jendela, keluarkan sampah, dan *wuzz...* biarlah angin membawa sampah itu entah kemana.


Apakah dia peduli sampah itu nantinya bisa jatuh ke kali? Atau masuk ke rumah orang? No. 
Sungguh ironis kalau sebenarnya mengetahui, she is a clean-freak at home. Di rumah sendiri, beliau adalah orang yang rajin sekali bersih-bersih rumah, dan sering kali memarahi kami atau para pembantu, kalau malas bersih-bersih rumah. Tetapi kalau keluar dari rumah, hohoho beda kasus. (^_^') 
Pada saat road trip kemarin itu, saya menegur dia baik-baik. Saya bilang, "Ma, mbok ojo nyampah..." 
Dan beliau dengan entengnya hanya menjawab, " Halah gak popo, ki lak luar kota .. ".
Mengetahui jawaban itu, tentunya saya juga membalas, karena saya tahu persis kenyataannya di kota kami pun, dia juga sering membuang sampah di jalan. Saya jawab, "Lho wong koe nang Solo ae yo kerep buang sakpenak'e dewe, mbok disimpen sik dinggo ngko dibuang ndek tempat sampah angel'e opo?
Dan lagi-lagi tidak ada jawaban memuaskan dari beliau, intinya gak papa kalau buang sampah sembarangan, nanti juga ada yang membersihkan.

Singkat cerita, sampailah kami di tempat pemakaman. Beliau yang sibuk mengurusi bunga-bunga yang akan disebarkan di atas pemakaman pun, mulai sibuk berkutat dengan keranjang berisi bunganya. Sampai pada akhirnya ketika bunga-bunga selesai dipreteli, ada satu kantong plastik hitam bekas tempat bunga, beliau lempar kemana hayo..... =P . Ke kuburan sebelah. (-_-') .
Tentunya saya juga masih bisa menegur, saya bilang, "Nang kuburan weh kok yo jik nyampah to.. Nang dalan nyampah, nang kuburan yo nyampah.
Mungkin beliau kali ini sedikit tersinggung, karena saya terang-terangan menegur. Beliau malah balik menjawab, jika saya ingin Indonesia bersih, ya silahkan saya jadi Presiden. Kemudian beliau kembali melanjutkan, bahwa Indonesia itu punya SDM yang rendah, manusianya bodoh-bodoh, banyak yang buang sampah sembarangan, tidak bisa dididik untuk disiplin. 

Sebenarnya secara tidak langsung beliau juga sedang membodohkan diri sendiri.
Sangat tergelitik sekali saya untuk menjawab, jika kita memang bisa lebih pintar, mengapa kita harus ikutan jadi bodoh? *sigh* Untungnya saat itu cuaca sedang panas sekali, sehingga saya malas keluarkan energi banyak untuk berdebat.

Kita tidak perlu jadi scientists untuk bisa merubah dunia ini. Kita hanya perlu sedikit kepedulian. Memang kebanyakan dari kita tidak tahu dan tidak cukup intelektual untuk mengetahui bagaimana sampah bisa diolah. Tapi apa salahnya kalau kita sedikit peduli, akan lingkungan kita?
Bayangkan misalnya rumah Anda, tiba-tiba dilempar kantung plastik berisi sampah... Itu yang terjadi kepada binatang-binatang yang tinggal di kali. 
Saya yakin tidak hanya binatang liar yang mengalami ini... Pasti juga ada orang-orang lain yang tidak beruntung, mendapat kiriman sampah dari orang lain di lingkungan mereka.
Kita seharusnya tidak hanya peduli dengan kebersihan lingkungan kita saja, dan tidak peduli dengan rumah orang lain, karena rumah kita sendiri pun adalah rumah orang lain bagi mereka. 

Wednesday, March 19, 2014



I miss having someone to talk to.
Someone who's excited to see me. Who can listen to all my ramblings without interrupting. Who can make me feel comfortable to tell my stories, without feeling ignored. One whom I can trust to talk to without any prejudices. And the closest thing I have is, my dog(s).

I've been searching for it for years. Since my childhood even. I've jumped to many different social circles, just to realize nobody really cared whether I'm around or not. For years I've tried to muster up strength to be social, but honestly it's hard. People don't really get it that for some people like me, even going out for a coffee needs great strength that doesn't come everyday. And when it happens, but then they don't even bother to ask me, or to let me finish my story, it'll become another disappointment that later at night, I blame myself for even trying.
I know, with my conditions, with it's been established that I have clinical depression and social anxiety disorder, it's also hard for people to understand and to like to be around me. Who wants to be around negative person? No one. Which then makes me feel guilty. So most of the times I think it's easier if I choose to just fake it. Show them the 'happy' me. The 'contented' me. That's what people want anyway. 
Even though deeply  I feel hollow and in the end of the day, I'd feel more miserable. Living day by day suffocating from these heavy feelings in my heart, and trying my best to survive.
So, yeah... I miss having someone to talk to. But I guess I really shouldn't hope for much.

Tuesday, February 25, 2014

Ted Mosby's Definition of LOVE


Have you watched How I Met Your Mother Season 09 eps 17 ?
If you haven't, ... maybe you should.
Because Ted Mosby finally made an excellent speech about love in that episode.
And I don't see him as a loser character anymore.


If you're looking for the word that means caring for someone beyond all rationality and wanting them to have everything they want, no matter how much it destroys you, it's love! And when you love someone, y-you just don't stop. Ever. Even when people roll their eyes, or call you crazy.. Even then, especially then! Y-you just don't give up, because if I could give up, if I could just take the world's advice and move on, and find someone else that wouldn't be love! That would be some other disposable thing that is not worth fighting for... But that is not what this is.

Tuesday, September 24, 2013

Good girl... Or bad girl...?

So here's my thought about being a girl, for girls. You have two options, you either become a good girl, or a bad girl. Can't be both. You're still attractive for guys, but guys (at least that I've known of) will treat you differently. 

Bad girls. There's always a guy who's after you for some time. They want to hang out with you. Be together with you. They'll flirt with you. You get their attentions. They want to sleep with you. But most of them don't want to marry you. 

They'll settle for you, good girls. They will marry you. They will grow old with you. They will come home to you.
But they'll treat you like you're a family. Not a lover. The one in their mind while they're fucking you, is the bad girl. And they do the nasty good stuffs sex-wise, with bad girls. They'll sneak up some time to spend with the bad girl, for some things you can't give them because as a good girl, you can't do what they do. 

So in other words...
Bad girls get the most of a guy, but the society will frown upon them.
Good girls are more reputable, but let's face it, there's a possibility that guys will look for a side-dish. No matter how good the guy is, it's in their nature. It's just a matter of whether they have the chance or not. They'll spend most of their youths dating bad girls, sleep around, breaking hearts, OR maybe they will only date you, for fun, then when it comes to settle down, BAM! They'll dump you. And they'll marry the good ones. 


So who do you want to be ?

I am the bad girl, apparently.....

Monday, June 17, 2013

About believing ....

I've spent 75% of my life so far, looking for happiness.
The lack of attention and love in the early years, was the driving urge of living the dream.
Then three years ago, when that happiness came, I fought for it.
And I fought hard.
Hard enough to eventually break me down, just to fight for that happiness.

So when the only thing in this world that can make me being real and happy, is fading away, .... what is left for me?
I lose faith. In believing that happiness is indeed real. 
Maybe it's all an illusion. Or maybe it is not destined for me.
I realize.... that I am not worthy enough for such luxury. 

Saturday, December 22, 2012

Pemerintahan yang bersih? Atau masyarakat yang bersih?

Disclaimer : Segala statement yang ditulis berdasarkan opini, bukan bermaksud untuk menjudge pihak tertentu.

Sebagai pribadi, yang sehat jiwa raga, tentunya kita menginginkan hidup di lingkungan yang bagus. 
Benar begitu?
Lingkungan yang bagus, tidak hanya dari keluarga, tapi juga dari lingkungan sekitar kita seperti di hidup bertetangga, bersosialisasi, sistem yang bagus.
Benar begitu bukan?
Lalu kalau kita sebagai masyarakat yang menganut sistem demokrasi, yang bersedia untuk dipimpin oleh suatu sistem pemerintahan, tentunya kita mengharapkan pemerintah yang bersih dan baik.
Bukan begitu?

I am not really interested in politics, to be honest. Never really cared about it, because i used to think everyone in the government is full of BS, and I still do. Meskipun ketika akhirnya saya bisa dapat KTP, dan memiliki hak suara dalam pemilihan wakil, awal-awalnya juga saya abstain. Sikap terserah ini sebenarnya disebabkan dari rasa pesimis, apakah memang negara ini bisa punya pemerintahan yang bagus?
Bukan rahasia lagi kalau pemerintahan Indonesia dari tingkat paling kecil sampai skala yang besar, tidak sepenuhnya bersih. Sudah dari berpuluh-puluh tahun yang lalu ada korupsi, politik, penjilat, dan sebenarnya dari masyarakat pun, meski mungkin tidak semuanya, sudah bersikap kurang lebih "terserah karena tahu-sama-tahu, asal loe gak ganggu-ganggu hidup gw". Ada sih memang orang-orang yang sebagai aktivis memerangi hal-hal yang "menodai" pemerintahan, meski kadang saya ragu, apakah mereka begitu karena mereka tidak mendapat kesempatan untuk ikut "menodai"? Jangan-jangan seandainya mereka punya kesempatan untuk duduk di tempat yang sama dengan yang mereka perangi, mereka lupa akan hal yang mereka perjuangkan? 
Yes... I am skeptic about it. 

But then, ketika pemerintahan menjadi kacau dan rugi besar-besaran, dan masyarakat merasa dirugikan karena uang negara dilarikan oleh kunyuk-kunyuk yang ada di pemerintahan itu (yang sebenarnya ada disana karena pilihan masyarakat juga, see how ironic it is?), masyarakat pun geram. Jadi maunya apa? Tentu tetep pada impian mempunyai pemimpin dan pemerintahan yang bagus kan?

Lalu gimana memulainya?
Masyarakat kecil, pada umumnya tidak menyadari, betapa suara mereka dan dukungan mereka itu penting. Dan mereka hanya berpatokan pada hidup mereka sendiri, padahal, di dalam gambaran secara global, apa yang terjadi pada skala yang besar, pasti berpengaruh kepada skala kecil. Begitu pula sebaliknya, skala kecil pun, juga berpengaruh ke skala yang besar.
Kurang lebih begitu penggambarannya.
Sejauh ini baru punya kesempatan memilih, yah baru sekitar 5 kali. 3 kali saya abstain, karena waktu itu saya masih jadi "perantau di negara tetangga" dan tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi di negara asal. 2 kali berikutnya, saya sudah pulang kampung. Saya pakai untuk memilih walikota saya pada waktu itu, dan untuk memilih presiden untuk skala besarnya. Saya sih punya kesadaran untuk bener-bener MIKIR orang yang mau saya coblos itu yang mana. Meski pada akhirnya, saya pun tidak memahami 100% tentang calon-calon yang ada, karena yah, namanya juga politik, there must be some kind of BS going on during the campaign, tapi setidaknya kita perlu lah untuk sedikit-sedikit tahu.

Sayangnya, terkadang masyarakat kecil, tidak terlalu berpendidikan untuk mengerti hal-hal rumit di pemerintahan, dan tidak mempunyai akses untuk tahu tentang hal-hal itu. Contoh, keluarga petani atau buruh di pedesaan atau pelosok, apa mereka mengerti tentang rumitnya subsidi, anggaran, instruksi presiden, dll ? Mereka hanya tahu tentang gimana mereka bisa hidup hari ini, dan berharap masih bisa survive besok-besoknya. Dan sayangnya hal ini pula yang bisa dimanfaatkan bagi "calon" pemimpin.

Ini kisah nyata, terjadi di lingkungan saya. 
Kebetulan (gak juga sih, tidak ada yang kebetulan di dunia ini...), saya bekerja di lingkungan pedesaan. Yah meskipun gak desa-desa amat, masih pinggiran kota, dan di sebuah perusahaan yang lumayan besar, sebagian besar karyawannya masih tinggal di daerah desa. You know... Yang alamatnya masih bukan berupa Jalan Blablabla... Mereka masih memakai sistem alamat Desa Prikitiew, Kecamatan Oh-Lala, dst. 
Dan apa yang terjadi ketika ada pemilihan Kepala Desa, Kepala RT, Lurah, dsb?
Hal yang sering saya dengar sih, mereka lebih sering tidak "berpartisipasi" dengan benar.
Sering saya dengar, dalam pemilihan Kades, ada yang sampai habis ratusan juta. Untuk biaya kampanye. Yang sebagian sih, habis bukan di kampanye, tapi di "menyogok". Ada yang bagi-bagi sembako ke masyarakat. Ada yang bagi-bagi kain batik ke setiap warga. Dan bukan rahasia lagi, bagi-bagi amplop. Yang isinya jelas uang tunai. Bisa Rp.20.000,-. Bisa Rp.50.000,-. Bahkan ada yang pernah menerima Rp.100.000,-. Untuk apa? Pendukung calon tentunya beralasan, itu bukan sogokan, meskipun sebenarnya, ngaku saja lah, ada harapan di balik bagi-bagi itu, untuk dipilih pada waktu nanti hari H-nya.

Karena secara tidak langsung, "budaya amplop" ini mendidik masyarakat, untuk mengharapkan diberi sesuatu, ketika ada pemilihan. Bukti langsung sih ada... Beberapa dari rekan kerja ada yang berkata dengan jelas, "Milih sopo yo? Yo garek sopo sing ngamplopi...." (Milih siapa ya? Ya tinggal siapa yang kasih amplop...)
Ada juga yang berkata, ketika ditanya kenapa dia tidak ijin cuti masuk kerja ketika ada pemilihan ketua RT di tempat tinggalnya, "Males i teko, lha wong kenal calon'e sopo ae ora. Sak-sak'e wis." - Malas datang (untuk memilih), kenal calonnya siapa saja tidak. Terserah saja lah.
Dan ada yang lain mengompori, "Yo ra sah teko, bener. Ra entuk amplop to..." (Ya gak usah datang, benar. Gak dapat amplop kan..."
Kok mereka mau terima amplop?
Karena dapat uang cash langsung lebih enak daripada menunggu hasil pemerintahan bersih yang mungkin baru ada setelah berpuluh-puluh tahun lagi.

Dan ini lingkaran setan, saudara-saudara!
Karena masyarakat yang tidak peduli ini, melatih para calon-calon untuk mengeluarkan kocek untuk membeli suara mereka. Modal mereka juga besar. Yang tentunya akan mereka ambil balik modalnya dari mana? Ya dari waktu mereka menjabat donk.
Ketika sudah balik modal pun, apa yang menghalangi mereka untuk tidak mengambil lebih? Tidak ada. Kecuali ketahuan.....
Dari badan keamanan pun tidak lepas dari trik kotor. Banyak orang-orang yang mau masuk ke TNI atau angkatan lainnya, harus memberi "upeti" dulu ke pimpinan supaya diterima. Polisi terima suap tilang pun sudah bukan rahasia. Calon PNS pun gak lepas dari "upeti". Mereka mendaftar jadi PNS, ada beberapa yang harus "membayar". Jika orang-orang seperti ini duduk di dalam pemerintahan, apakah ada jaminan mereka bekerja dengan bersih?
Ini tidak hanya terjadi di lingkungan saya. Saya sih yakin ini ada dimana-mana. Seremnya sih kalau sampai skala nasional pun, hal budaya ini masih ada.

Lalu, pantaskah masyarakat yang "menjual suara" ini protes, ketika nanti ujung-ujungnya, keadaan lingkungan mereka penuh dengan korupsi, suap, kongkalikong?
Kalau mau mawas diri sih, seharusnya tidak. Karena jujur saja, menurut saya, mereka juga yang "encourage that kind of behavior".

Darimana bisa ada pemerintahan yang bersih, jika masyarakat yang dipimpin pun tidak bersih?
Begitu juga, darimana ada masyarakat yang bersih, jika tidak dipimpin dengan benar?
Bukankah naif, jika kita mengharapkan suatu pemerintahan yang bersih, jika sikap kita sebagai masyarakat pun tidak bersih?

Itulah rumitnya bermasyarakat.... 

Tuesday, November 27, 2012

How I realized I am old already.....

Have you had those experiences, where some people ask how old you are, and you JOKINGly answered " 17... " or... "20..." or any number less than 30, but deep deep down you know that you're NOT?! No?
Or maybe using that phrase " I am 17 at heart. " Because that's your defense. You may be old but always young at heart. Um... Yeah....

It's good to have those spirits. For all we know, it's nice to be young... Aaah, so thoughtless and carefree. I mean it, it's nice to be doubted that you're old. I still remember about few years ago, when I was still living abroad, every time I ventured into a casino, (not that I like gambling, that casino just happened to be near where I live, and there's a cinema there. So it's a shortcut *wink wink*. No seriously, I never gamble. Just can't afford it. :p) ... I was always being asked for an ID, to proof that I was over 18. I mean, seriously, I tried to dress well. Not in t-shirt or jeans with holes somewhere. I wore dress! And high-heeled shoes! So mature. Yet the security guards were not convinced and believed I am around 16 *cough* until I showed them my driving license, which was Indonesian driving license by the way. Um... don't they know that in Indonesia , it's easy to fake your age in the driving license? Heck I even knew a 13 year-old boy who had a license that confirmed him as a 19 year-old. Riiiight.......

So we do get old. We can't deny it. Why deny it? Although I know, it's rather hard to accept that we're not as young as we were. And maybe we just really have to realize that, after some reality things were really thrown to your face and just say "C'mon admit it! You're OLD!". And here are some that hit me.....

-> When I no longer like boy bands....
Well I still like the OLD boy bands. You know, when they were boy bands in MY era. Which they are old dudes by now. I still remember around *cough* 15 years ago, I was so crazed up about boy bands. I would go screaming all 'ooooh... aaaah...' every time they were on the radio or TVs, just like the teenagers now. Now? How am I supposed to like them when the oldest member of the band is actually way younger than me? *facepalm* Not that I hate their songs... Just not really a fan of them anymore.

-> Or no longer like music that requires too much energy to enjoy...
This is where I was torn at heart. You see, I always thought that the music in the nightclub was the coolest genre of music. I did like the beats. And it's always fun to dance to the beat. I just don't have the energy for clubbing anymore. Not that I was a club-craze chick back then, I think I went to club probably only around 5 or 6 times. But I did enjoy the music. I even had some CDs full of it. Now I think those CDs are somewhere.... um.. missing. 

-> When I get dizzy looking at bright colors constantly....
Another wake-up call thing, is when I can no longer stand seeing cute girly colors for my phone theme. Ha! See! How cute are these?


It's a free blackberry theme by the way, which for a moment, hypnotized me with the bright colors, cute fonts, cute candy icons, and made me screaming KYAAAA KAWAII!! like a little girl again. It even took control of my mind and made me consciously purchased TWO themes with the same cuteness. Only to realize, after two days of using the themes, I can't stand to look at it anymore, and I am back using the more simpler theme. And I deleted the cute themes. I got dizzy. That's right. DIZZY for looking at something THAT CUTE?! That means you're old, girl..... C'mon, your own body can't take it. It's like a totally different era, when you used to be able NOT SLEEPING for 2 days, or maybe went to sleep at 4 AM, now you're sleepy already at 10 PM.

-> When my desktop backgrounds no longer feature chibi anime characters....
I like mangas. And animes. I still like them by the way 'til now. But the love has shifted. Yup.
The teenager me *cough* would read and watch them EVERYDAY, and if you log in into my computer, you'd see something like these :


Or something else cuter that features cute chibi characters like mini Luffy of One Piece or mini Sakura-chan from Cardcaptor Sakura, or 5 years ago I still collect Naruto wallpapers!!!
NOW my desktop backgrounds are.....


FOOD !!!!!!!!!!!
And LOTS of them.......
'Cause you know... Old people... need food.....
No?
Or maybe because as we get older, we just like to sit down and munch, rather than go out adventuring somewhere wild. Uh huh.....
Go on, deny it, because you can't. Look at the young teenagers, so full up of energy, running around to do crazy things. Older people? Having culinary-trips. Seriously admit it. You go all the way to other towns, not to do sailings, or flying fox things, or bungee-jumping (which I NEVER dare enough to try), or something. But to eat. And it's getting worse when you're old enough to have grandchildren. True story.... My own mom does it. With her friends. Willing to travel somewhere far away. Just to eat the local culinary. 
And I think I already do the same thing. The last trip I went through, I ended up eating more than shopping. 

-> When the shortened messages annoys me like a trapped ant in the pants....
Aaaah teenagers... So carefree, so thoughtless, so creative.... Okay back then, when the mobile phone can only use 160 characters per message, and the cost of the message itself is more expensive than it is right now, it's totally understandable to shorten your text. You know... Like using 'u' instead of 'you' ... 'thx' instead of the full 'thank you'... And I did it too, way back then... It's so cool and hip.
Now it annoys me a lot when young people replace 'nya' with 'x'... where the hell did that X come from??!
Or when they use numbers as letters. 53r10u5|_y? You have smartphones nowadays!
FULL QWERTY keypads. And the cost of the message doesn't really cost much by the way. But okay, maybe my old mind can no longer see it as cool and hip anymore.

And I finally have to surrender and admit, geez, I am no longer young.....

What other wake-up-calls for being old? Maybe now you have to work for living, instead of robbing the parent's money? Maybe now you have to maintain your image, instead of being so carefree?


Saturday, September 8, 2012

" Wait. "


Desperately, helplessly, longingly, I cried;
Quietly, patiently, lovingly, God replied.
I pled and I wept for a clue to my fate . . .
And the Master so gently said, “Wait.”

“Wait? You say, wait?” my indignant reply.
“Lord, I need answers, I need to know why!
Is your hand shortened? Or have you not heard?
By faith I have asked, and I’m claiming your Word.

My future and all to which I relate
Hangs in the balance, and you tell me to wait?
I’m needing a ‘yes’, a go-ahead sign,
Or even a ‘no’ to which I can resign.

“You promised, dear Lord, that if we believe,
We need but to ask, and we shall receive.
And Lord I’ve been asking, and this is my cry:
I’m weary of asking! I need a reply.”

Then quietly, softly, I learned of my fate,
As my Master replied again, “Wait.”
So I slumped in my chair, defeated and taut,
And grumbled to God, “So, I’m waiting for what?”

He seemed then to kneel, and His eyes met with mine . . .
and He tenderly said, “I could give you a sign.
I could shake the heavens and darken the sun.
I could raise the dead and cause mountains to run.

“I could give all you seek and pleased you would be.
You’d have what you want, but you wouldn’t know Me.
You’d not know the depth of my love for each saint.
You’d not know the power that I give to the faint.

“You’d not learn to see through clouds of despair;
You’d not learn to trust just by knowing I’m there.
You’d not know the joy of resting in Me
When darkness and silence are all you can see.

“You’d never experience the fullness of love
When the peace of My spirit descends like a dove.
You would know that I give, and I save, for a start,
But you’d not know the depth of the beat of My heart.

“The glow of my comfort late into the night,
The faith that I give when you walk without sight.
The depth that’s beyond getting just what you ask
From an infinite God who makes what you have last.

“You’d never know, should your pain quickly flee,
What it means that My grace is sufficient for thee.
Yes, your dearest dreams overnight would come true,
But, oh, the loss, if you missed what I’m doing in you.

“So, be silent, my child, and in time you will see
That the greatest of gifts is to truly know me.
And though oft My answers seem terribly late,
My most precious answer of all is still . . . Wait.”

- by Russell Kelfer

~ * ~

Terkadang dalam hidup ini, kita mengalami kepahitan yang begitu berat. 
Yang membuat kita bertanya, "Why? I don't deserve this."
Yang membuat kita begitu tersakiti, putus asa...
The aching that breaks us so. That makes us don't even want to believe anymore.

Tapi terkadang kita perlu melihat kembali, jauh ke dalam ke kepahitan itu. Karena Tuhan memberikan satu pelajaran tersembunyi disana. Lewat kepahitan itu, kita bertumbuh. Lewat kepahitan itu, kita disadarkan. Lewat kepahitan itu, kita ditempa.
Untuk satu rencana, yang menguatkan kita, dan memuliakan-Nya.

Butuh waktu, dan hati yang besar, yang mau untuk dididik untuk melihat pencerahan di balik setiap kepahitan. Dan Tuhan menginginkan kita, untuk sabar menunggu
Karena dalam waktu-Nya, kita akan tahu.

Tuesday, July 3, 2012

Love changes us.

In How I Met Your Mother Season 06 episode 05, one of the character (Ted Mosby) says, 
" We all change a little for whoever we're into. "
To what length are we willing to change who we are?
We must have experienced it in our lives. We meet someone, and like them so much ; trying hard to impress them, or to have something in common with them, just because we want to be with them for as long as we can. Even if it means we have to do things we never imagine we ever did before. What drives us, is our feelings.
And the more we like someone, the crazier we can get.
True we should always apply " Be yourself. Don't change just because someone else asks you to."  rule when in a relationship. But it's almost a known fact that when people like someone else, little or even major changes happen in their lives.

Little changes can be something like ; when we're trying to like their fave kind of music, even though we never heard of it before. When we're trying to eat their fave foods, or cook their fave foods, even though we rarely cook, suddenly we feel the urge to cook because we want to make them happy.

Some even go to major changes like ; willing to move to other city, because they want to be together with people they love.
01 July 2012 - i'd anything for these guys :)
my lovable Z and my love D

Some changes may look stupid for other people, but I think it's understandable, as long as the change itself not giving any negative impacts. ( E.g. doing drugs because our partners are doing it, NOT COOL. Or converting religion to follow partners' religion, also NOT COOL. ) But sometimes our feelings can be very delusional, suffocating us, totally change the way we think who we are, and if it gets out of control, that "love" may kill.

Yup. What a scary little evil monster love is.
And it's killing me slowly, one day at a time....

***

Speaking of loving too much can kill, apparently animals can be like that too.

Our family home is also a home for 4 dogs, right now. The current four ones, my family didn't get them all for once, of course. We got them one by one.

big cranky lady, P
The first one is this Chow-Chow x Labrador girl, P. First time she was given to us, she was the only dog in the home, as the previous dogs have passed away or adopted by other people. So being the only cuddle of love, she was given lots of love and attention from my brother, hence she was a bit spoiled at first. Not much a trouble as she is a good and smart girl too.
sweet little guy, A

And then,.... one year later, my brother decided to buy another dog. 
A Maltese guy, A.
This was the love become tricky thing. Jealousy stroke. Feeling of inadequacy followed. Both of them love attention. And sure it is so cute and happy moment for us when both of them run towards us to greet us home, but it sure does look like they are fighting to get the first attention.





Naughty little girl, C.
So when my dog arrived last year, ( i got Z as my birthday present from D <3 ), and few months ago my brother was given a new puppy C, the competition of Who gets most love?  , is getting tougher. Even though we love them all, yes we do, sometimes I feel the jealousy among them is still there. 

While it is soooo nice and I'm happy being greeted home by these four furry balls of love, having them all jumping on you all at once, trying to get you to hold them, while you're still carrying heavy laptop bag or groceries bag is handful. Sometimes when I feel a bit tired, I'd have to run first to my room and they were all chasing behind me. They won't get me all at the same time because two of them are small and the others are big.

Then came a bit of incident last Sunday night. The people in the house had to go out often that day, so in the afternoon, the dogs were alone for some time. So when some of us went back home, the dogs were all excited to greet them. Because they were all trying to get attention first, it led to a fight between P and A. P, being as the oldest of the group, (and biggest, and strongest) maybe she has some kind of pride and she would get mad to the other if she was not the first to get to us. And A, who usually is a sweet little guy, was also defending his pride that night. The fight got ugly, A got hurt in the left eye, and was bleeding inside his left ear. Our guess is maybe P was scratching him with her big claws.

A is still recovering for now. We all hope he will be cured soon.

Friday, June 29, 2012

Treasurable Memories


When we're in a relationship, surely we do a lot of things together with our partner. Classic dates ; going to see movies, eating out for lunch or dinner, going around the city, or do shopping together, spending times together just cuddling and talking to each other, etc. Or even planning on bigger dates, like going away together to another city for a day, even having a vacation with just the two of us for some days. We can think of many things to do with our partner, because we never really think it's going to end, right? We let it flow, and even plan things ahead in the future.

And what do we get from all of those times? Memories.
We want to always remember our happy times in our lives. Some of us take pictures, some record moments, some just rely on their brains to store the memories, or else, we each have our own ways to reserve the memories.
I have a good ability to remember important stuffs. Well.. important stuffs for me. So i don't really need to save and keep everything to reserve the memories. But it doesn't make me being ignorant. In fact, I'm a bit obsessive. When there is something that means a lot to me, even though it can mean like nothing for other people, I'd keep it.

So of course when I'm in the happiest relationship in my life, and it really is the only time I truly feel happy, I try to keep everything I can keep. Things that are common, like photos, chat histories, stories in a diary, and even small things like movie tickets, store receipts, restaurant bills, our vacation tickets, anything. I even tried to keep the petals from the rose I got from him on Valentine's Day this year. It may sound ridiculous but I don't want to regret on missing something and having nothing to remember by.

Too bad roses wither... It only lasts for a week max. :'(

Sadly, often we just realize things actually matter when it's gone. When you've lost everything, that's when you can really start to appreciate and realize small meaningless things actually mean a lot to you
Even though I have kept lots of things, it still doesn't feel enough. :)

Two days ago, I got a nice break night from my life of despair, for I was with him, we had our usual favorite date (watching movie and driving around the city), I found my new treasurable memories. Small things I never really thought of before. Things I can see in different perspective now.
I truly like to watch him driving. And the way sometimes we hold each other's hand while he's driving.
I like how he looks like when he's watching the road.
How he sings along to the song on the radio/CD.
And the way he walks. The way he talks. 
Or when he holds me close to him, hugging me during the movie.
Love the way he laughs. Or when he giggles.
The sounds of his breaths. The warmth of his body. The softness when we hold hands. The touch of his lips. 
When you can appreciate tiny things like that, it feels so content, and I assure you, you wish you can just freeze the time, right there. 

Don't just remember the big things like gifts (oh but i got an unexpected gift :)) or anniversaries or else, because it gets boring easily. We can't always expect to have great things all the times. 
Appreciate and reserve small things too. Things that seem so mundane and cheesy, they become the sweetest thing if you're in love.

Treasure them, so much in your heart, for things like this that make our lives colorful.

Monday, June 25, 2012

"Goodbye" is not an easy word.

How would you react to separation?
Crying?
Anger?
Denial?
Joy?
I've dealt with quite much losing in my life so far, and I gotta say, you can never really prepare for goodbye.

Just recently, I have to let go of someone really important for me. 
He's been in my life for about 2 years, with unexpectedly our relationship grew into much deeper and closer than we ever wanted to be.
I have been through a lot of things together with this person, and it may sound cheesy, but I can't fool my heart not to love this person.
So when the relationship really had to come to an end, it's not an easy thing for me to go through.

Months before, when I already sensed things were wrong, I tried to prepare my best to deal with it.
Berdoa, menguatkan hati, menyabarkan diri. Membayangkan skenario-skenario kejadian ketika hal itu terjadi. Melatih reaksi.
But as I said, kita tidak pernah bisa benar-benar menyiapkan diri untuk suatu perpisahan.
Sesempurna apapun kita melatih diri, hati akan menunjukkan siapa kita sesungguhnya.

And apparently, i can't force myself to let go....
It will always be there, that crazy little thing called ~ love ~. And as much as I know I have to accept my loss, this heart just won't listen to me.


Saturday, March 31, 2012

Remembering when...


Dear D ,

It's almost 2 months since we broke up...
Do you still love me?


I still do.. :)
Dan kurasa kamu pun juga tahu itu.
Sungguh aneh ya, kita masih bisa bersama, meskipun secara status kita tidak lagi sebagai pacar. Seolah-olah hari itu tidak pernah terjadi.
Atau kita, terutama aku, memang dalam denial, tidak ingin benar-benar mengakui dan menerima kenyataan, that you are no longer mine...

Mungkin kamu tidak akan pernah tahu, perasaanku sesungguhnya...
Kesedihan yang harus kusembunyikan, karena aku tidak ingin kamu melihat aku terpuruk.
Karena aku juga tidak ingin membuat suasana menjadi buruk, for i really cherish the times we spent together.
Although sometimes, I want you to understand how I feel.

I still can't let go of you..
Even though I know I should...
Gradually I teach myself, to surrender.. Berpasrah atas keadaan..


I believe that if things are meant to be, they'll come true,
and the past will set me free.
I believe and I know deep in my heart, that you will see,
in the time we are apart.

I've not let you go... I've kept you here with me...
Even though it seems like I've moved on, the distance still hurts me...

But if the years go by and you forget me,
know that I love you and that I cherish all the days that you were here with me,
and I was beside you, there inside your heart...
Warm in summer time ...
No, I can't let go ... Thinking of what might have been ...

I believe, even though I must leave you,
there will be a time we meet again ...
If it's true, that your heart is meant for me,
then fate will see that in distant days, we'll meet ...

And I'll love you still .. But will you still love me?
Knowing what I've done to you, but not how much you mean to me.

And if the years go by and you forget me,
know that I miss you ...
And that I'll look back on the days, that you were here with me,
and I was beside you, there inside your heart...
Warm in memories ...
No, I can't let go ... Thinking of what might have been ...

A wounded heart is hardest to forgive.
But I'll still try to make it right, for every day that I have been away from you.
I'll kiss you twice, and tenderly I'll pledge to stay ...

But if the pain has made your heart forget me,
know that I'll miss you, and that I'll look back on the days that you were here with me,
and I was beside you, there inside your heart ...
Warm in memories ...
I'll let go of you, wishing for what might have been ...
I'll love you still, the one and only you forever ...
- copied from Emotional Flutter

ironi masyarakat #1

The Big Picture | Pandji Pragiwaksono:

'via Blog this'

Ini kurang lebih gambaran mengapa harga BBM memang harus naik.
Kalau ada problem untuk masuk ke linknya, isinya tulisan Pandji Pragiwaksono tentang analisa mengapa wajar kalau harga BBM naik :

Sebuah kesempatan langka berkesempatan ke NTT, kala itu saya datang dalam rangka revitalisasi posyandu di sana. Sesuatu yang sangat dibutuhkan banyak masyarakat. NTT adalah propinsi dengan angka kematian anak tertinggi di Indonesia

Sampai hari ini pengalaman berharga itu masih membekas sampai hari ini, untuk yang belum baca perjalanan saya, silakan klik di sini

Pulang dari Kupang, saya menyimpan pertanyaan spesifik. Dari bertanya, saya akhirnya tahu jarak garis lurus antara Kupang dengan perbatasan timorleste adalah 140km, jarak tempuh ke sana dari Kupang sekitar…. 8 jam.

Jakarta-Bandung lewat Cipularang juga 120km bisa saya tempuh dalam waktu 2 jam, bahkan kalau saya nyetir dengan membayangkan film FastFive saya bisa sampai Bandung dalam 1 jam saja.


Mengapa bisa seperti itu? Jawabannya adalah infrastruktur.

Pemerintah Indonesia, tidak terlihat konsisten dalam niatnya membangun Indonesia karena terutama di Indonesia Timur, infrastruktur yg abal abal membuat saudara saudara kita di sana tidak bisa mendapatkan kesempatan yang adil.


Ini pemahaman saya tentang infrastruktur

1. Misalnya anda mau menjual rumah anda, lalu jalan di depan rumah, rusaknya ampun ampunan. Kalau bawa mobil di jalan tersebut, anda akan merasa seperti sedang naik rover di permukaan bulan. Lalu, pemerintah kota memperbaiki jalan di depan rumah anda tersebut. Jalan menjadi mulus seperti paha personil cherrybelle. yang manapun. Otomatis, VALUE rumah anda akan naik. Harga rumah anda meningkat dan dengan itu uang yang anda terima jadi nambah.


Kejadian sebaliknya terjadi di Kelapa Gading, pasca banjir 2007 banyak rumah yang dijual. Harga rumah rumah yang dijual di Kelapa Gading ini seharga Rp 300juta. Sekedar informasi, sebelum banjir, nilainya sekitar Rp 1M. Mengapa bisa turun? Karena banjir. Si penjual hanya menjual dengan harga tanah karena siapapun yang membeli rumah tersebut pasti akan harus merobohkan rumah yang lama dan kemudian membangun kembali rumah yang ditinggikan untuk mengantisipasi banjir. Ketika infrastruktur berupa Banjir Kanal Timur diselesaikan dengan harapan banjir tidak akan lagi melanda Kelapa Gading, harga harga rumah mulai kembali normal.



2. Selain Grameen Bank ada sebuah perusahaan namanya Grameen Phone, inisiatif Muhammad Yunus ( inisiator Grameen Bank) bersama Nokia, untuk menyediakan ponsel kepada para pedagang kecil di Bangladesh. Ponsel tersebut dilengkap juga dengan informasi mengenai harga bahan bahan dasar, dll yang berkaitan langsung dengan bisnis mereka Sejak program ini jalan, pemasukan para pedagang kecil Bangladesh meningkat pesat. Ternyata selama ini, jarak yang terlalu jauh antara pasar (market place) dengan sawah/ ladang/ peternakan menghambat bisnis mereka. Contoh paling sederhana, seorang peternak kambing mendapatkan kabar via teman yang baru datang dari pasar bahwa ada yang ingin membeli kambing. Sang peternak, jalan KAKI sekitar 6 jam hingga ke pasar hanya untuk menemukan fakta bahwa si pembeli sudah mendapatkan dari peternak lain, dan ternyata yang dia cari adalah SAPI .



Handphone, membantu efektivitas perdagangan para pelaku usaha kecil ini. Saya langsung ingat cerita Angga Sasongko tentang keadaan di Mentawai. Di sana, boro boro orang bisa tahu berapa angka pasti korban tsunami, wong telfon aja ga ada. Kemkominfo pernah memberi sejumlah telefon satelit untuk Mentawai, sekarang rusak semua. Boro boro untuk perdagangan, untuk urusan nyawa saja, infrastruktur seperti telefon tidak bisa disiapkan



3. Saya kemarin baru dari Pasar Senen untuk kebutuhan shooting, saya berbincang dengan banyak pedagang di sana, beberapa sudah ada di sana sejak 1970an. Mereka mengeluh, pemasukan yang berkurang. Mereka mayoritas tidak menyalahkan hypermart yang sekarang marak bermunculan karena memang, menyasar segmen yang berbeda, harga Hypermart juga sebenarnya lebih mahal dan mereka juga nampaknya sadar faktor kebersihan jadi alasan mengapa orang mulai meninggalkan dagangan mereka. Obrolan ini, terjadi di lantai dasar Pasar Senen, di area pasar basah, dengan kaki berkubang entah air apa yang membasahi lantai, dengan seorang pedagang ikan yang sibuk mengusir kecoak yang lari lari di atas ikan ikan dagangan mereka.



Saya lalu berbincang dengan seorang bernama Pak Suwito beliau seorang pengusaha properti (mal tepatnya) yang menulis buku “Jakarta dan Pusat Perbelanjaan”. Saya bertanya, apa yang bisa pemerintah lakukan untuk membantu pasar tradisional tidak terluka seperti sekarang ini. Jawabannya, lagi lagi infrastruktur “Pemerintah daerah harusnya memberi dukungan dalam bentuk perbaikan infrastruktur. Perbaiki kondisi pasar pasar tradisional, bersihkan, buat agar pasar kembali menjadi nyaman dan bersih sehingga punya daya saing”. Beliau kemudian mencontohkan bagaimana pemda banten memberi dukungan kepada Pasar Tradisional di Serpong dengan membawa BPOM masuk ke pasar tersebut. Pasar kemudian dibimbing agar dagangannya bersih dan sehat, hingga kini akhirnya omset pedagang di sana meningkat karena harganya murah tapi kebersihan terjamin. Saya lalu bertanya, “Lalu apa yang membuat Pasar Senen sebagai pasar besar pertama di Jakarta bisa bertahan sampai sekarang?” Jawabannya lagi lagi karena infrastruktur “Coba kamu lihat, ke Pasar Senen itu gampang, mau naik bis trans jakarta bisa, mau naik KRL stasiunnya ada, mau naik mikrolet ada trayeknya, lalu ada jembatang penyebrangan ber AC dengan toko toko di dalamnya untuk orang yang mau menyebrang dari Atrium Senen ke Pasar Senen dan sebaliknya”



NAH

Saya tahu anda masuk ke blog ini untuk membaca tentang kenaikan BBM, anda mungkin bingung mengapa jadi membaca semua yang ada di atas. Jawabannya adalah, karena saya ingin memberikan gambaran umum mengenai pentingnya pembangunan dan perbaikan infrastruktur di Indonesia untuk menstimulasi kesejahteraan masyarakat. Sehingga ketika anda tahu bahwa alokasi dana untuk pembangunan infrastruktur (di APBN tulisannya: belanja modal) kecil, anda akan kaget dan mempertanyakan di mana keseriusan pemerintah

Apalagi karena siapapun yang menolak kenaikan BBM dengan alasan kasian kepada rakyat kecil harusnya tahu bahwa kalau memang peduli kepada rakyat kecil, harusnya uangnya dialihkan kepada infrastruktur seperti apa yang direncanakan pemerintah ( saya baca di sini dan menurut saya komik tadi itu merupakan inisiatif menarik dari pemerintah untuk menerangkan soal kenaikan BBM)

Mungkin sudah jelas sampai sini bahwa saya berpihak kepada kenaikan BBM. Yang belum jelas saya terangkan adalah, bahwa menurut saya anjuran untuk tidak menaikkan harga BBM juga bukan sesuatu yang salah.


Bingung?
Mari saya jelaskan…

Di Provocative Proactive Radio selasa malam kemarin (27 maret 2012) saya mewawancara Mas Aco Patunru seorang peneliti dari LPEM FEUI dan juga dosen Mikro Ekonomi, Makro Ekonomi, Perencanaan Pembangunan, Ekonomi Pembangunan dan Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan di FEUI. Saya juga membawa ke studio Mas Arief Budimanta seorang anggota DPR Komisi 11 yang membidangi keuangan, perencanaan keuangan nasional, perbankan dan lembaga keuangan bukan bank. Beliau dari PDI-P.

Mas Aco pro kenaikan BBM, Mas Arief kontra kenaikan BBM.

Saya membawa mereka berdua ke studio karena saya lelah melihat, mendengar, membaca opini opini. Saya ingin bertemu dengan fakta fakta baik dari mereka yang mendukung dan yang tidak. Saya ingin bertanya agar kemudian saya bisa berkesimpulan sendiri dengan keyakinan penuh.

Latar belakang diskusinya begini, Pemerintah tidak kuat terus terusan mensubsidi BBM apalagi dengan harga minyak yang terus meningkat. Pemerintah merasa APBN bisa jebol kalau terus terusan begini.

Mengapa harga minyak dunia meningkat? Sederhana saja, minyak bumi adalah sumber energi yang tidak dapat terbarukan. Kelak akan habis. Sementara, jumlah manusia yang mondar mandir di atas Bumi meningkat terus. Kalau ada barang dagangan yang menipis dan yang mau beli jumlahnya banyak, pasti harga akan naik. Seperti cinta saya. Saya cuma punya cinta sedikit, yang pengen cinta dari saya banyak, walhasil cinta saya mahal….. hehehe


Selain itu, konflik antara Amerika Serikat dengan Iran juga menambah buruk keadaan. Iran yang ngotot terus mengembangkan teknologi nuklir akhirnya “dihukum” Amerika Serikat. AS “memerintahkan” negara negara termasuk negara kita untuk tidak membeli minyak dari Iran. Maklum, kita sudah keluar dari OPEC dan tidak lagi mengekspor minyak. Kita cuma boleh produksi 650 ribu barrel perhari sementara yg harus disokong adalah kebutuhan sejumlah 1 juta barrel. Akhirnya kita banyak mengimpor. Karena kita mengimpor maka harga minyak dunia sangat berpengaruh kepada kita. Pertanyaannya, kenapa kita musti nurut atas perintah Amerika Serikat?

Karena Indonesia saat ini emang masih jadi kacungnya Amerika Serikat hehehehehehehehe

Banyak aliran dana dari Amerika Serikat yang masuk ke Indonesia baik dalam bentuk pinjaman maupun hibah. dari US AID, dan lain lain. Biasanya uang uang tersebut masuk untuk pembangunan infrastruktur. Makanya kalau kita nggak nurut, uangnya ga turun, sementara kita tahu alokasi dana untuk infrastrukur jauh di bawah yang dibutuhkan itulah mengapa pemerintah RI kemarin kemarin ini sangat mengandalkan uang dari asing.

Sayang memang. Padahal kalau bisa pake uang sendiri, mending pake uang Indonesia sendiri. Oiya lupa, uangnya dipake untuk subsidi BBM, hehehe



Kembali ke BBM, dari penuturan di atas berarti kita sama sama sepakat bahwa harga minyak dunia akan terus naik. Kalau kita terus menerus mensubsidi, maka lama lama jumlah subsidinya akan terus naik dan semakin memberatkan APBN.

Cadangan BBM yang Indonesia miliki, yang diperkirakan masih tersisa dalam bumi pertiwi, akan habis 25 tahun dari sekarang. Kalau habis, berarti 100% kebutuhan BBM kita akan import dari asing, pada saat itu terjadi maka kita mau nggak mau harus pakai harga dunia dan akan sangat berat. Kalau nggak percaya, silakan google sendiri harga BBM di negara negara lain. harga kita adalah yang termurah.

Bahkan negara lain sering bertanya “Bagaimana, Indonesia sudah menarik pajak dari BBM?” , kita akan jawab boro boro, ngurangin subsidi aja diprotes hehehe

Ya, betul sekali. Negara lain mulai menarik pajak dari penggunaan BBM sebagai diinsentif penggunaan BBM. Bahasa sederhananya, supaya orang males pake BBM.


Mengapa orang harus dibuat males? Supaya membuka jalan untuk pengembangan energi alternatif


Di Indonesia pengembangan energi alternatif tidak berjalan. Tidak ada investor yang mau masuk ke area itu. Mengapa? Karena harga BBM di Indonesia murah. Energi alternatif yang mereka akan tawarkan tidak akan bisa bersaing harga. Saya tahu ini karena beberapa waktu lalu saya bertanya kepada banyak pihak mengapa di Indonesia tidak ada yang mengembangkan tenaga matahari, atau arus bawah laut dan masih banyak lagi potensi energi alternatif terbarukan yang Indonesia miliki. Bahkan negara negara lain mengakui, Indonesia adalah rumah untuk sumber sumber energi alternatif terbarukan terbesar di dunia. Tapi mengapa tidak ada yang mengembangkan? Jawabannya, karena mahal dan tidak dapat bersaing dengan BBM yang masih murah di Indonesia.



Mas Arief, yang notabene seorang anggota DPR fraksi PDI-P, sebuah partai yang keras menolak kenaikan BBM juga mengakui bahwa harga minyak dunia akan terus naik, beliau juga setuju harga BBM di Indonesia kelak memang terpaksa harus dinaikkan


Saya tanya kepada beliau, “Kalau misalnya Mas Arief ga setuju kenaikan BBM sekarang, lalu Mas setujunya akan naik kapan?”

Jawaban Mas Arief “Entah, tergantung momentum..”


Mungkin maksud beliau “Tergantung siapa Presidennya”, karena sekarang Presidennya SBY maka ini momentum yang tepat untuk menolak kenaikan tersebut. PDI-P jadi keliatan oke di mata rakyat. hehehe

Karena kenyataannya, waktu Megawati jadi presiden, harga BBM juga naik, 3 kali bahkan. Mas Arief bilang “Waktu itu kondisinya beda..”

Iya, beda Presidennya. Kalau Presidennya dari partai PDI-P tentu keputusan naikin BBM akan dibela.

hehe

Diskusi kami, saya, Mas Aco dan Mas Areif akhirnya mondar mandir di urusan besarnya APBN dan dan berapa banyak yang harus dikurangi.


Mas Arief berargumen sebenarnya pemerintah tidak perlu menaikkan BBM kalau yg dikhawatirkan adalah uangnya ga cukup.

Karena uangnya ada. Bahkan dari sisa anggaran yang lalu bisa dipakai dan dimasukkan kepada rencana APBN sekarang.

Mas Arief bilang, kenaikan BBM harusnya tahun 2011 ketika daya belanja masyarakat sedang tinggi tingginya. Ketika saya tanya, “Bukankah sekarang juga kuat?” Jawaban Mas Arief, “Sedikit melemah dibandingkan tahun lalu”

Mas Arief bilang, perkuat dulu kemampuan ekonomi masyarakat baru naikkan BBM.

Cari solusi solusi lain agar APBN bisa selamat tanpa harus mengorbankan rakyat. Dampak inflasinya akan mencekik rakyat.

Masuk akal argument Mas Arief, apalagi karena solusi yang ditawarkan pemerintah untuk mengtasi dampak inflasi adalah solusi yang saya kurang sreg. BLSM. Bantuan Langsung Sementara Masyarakat. Di mana 30% masyarakat dengan ekonomi terbawah di Indonesia akan mendapatkan uang sebesar Rp 150.000 selama 3 bulan untuk mengurangi dampak inflasi tersebut dengan asumsi setelah 3 bulan masyarakat sudah bisa menyesuaikan dengan dampak inflasi.

Saya tidak pernah suka dengan BLT dan juga BLSM. Saya bingung dengan praktek dan efektifitasnya.

Kata Mas Aco dibandingkan Negara Negara lain yang menjalankan program seperti BLSM, Indonesia ternyata angka kebocorannya terrendah.

Tidak membuat saya tenang.

Itu seperti “Naik mobil ini gapapa kok, kecelakaannya lebih sedikit. Tetep nabrak, tapi sedikit…”

Mas Aco beropini, kenaikan BBM harusnya tidak dilihat dari urusan defisit anggaran saja seperti yang selama ini diperdebatkan.

Menurut Mas Aco, kenaikan BBM harus dilakukan karena memang hal yang benar. Menurut SUSENAS, Survey Ekonomi Sosial Nasional, yang menikmati subsidi BBM hanya 10% masyarakat teratas di Indonesia. Aneh menurut saya karena masyarakat bawahpun mendapatkan efek dari kendaraan umum yang dia gunakan dan harga harga pokok kan juga terpengaruh dari BBM

Kedua menurut Mas Aco kalau memang peduli kepada penggunaan energi alternative, harus dipaksa untuk mengurangi penggunaan BBM dengan menaikkan harga sehingga ada peluang untuk mengembangkan energy alternative (demandnya ada) dan energy alternative bisa bersaing secara harga. Di sini saya setuju.

Ketiga dan ini poin yang saya setujui juga, adalah alasan pengalihan sisa dana untuk infrastruktur.



Kesimpulan: Tidak ada yang salah, kedua solusi sama sama benar.

Kalau anda mempelajari jalan yang ingin diambil pemerintah dan jalan yang ditawarkan oleh PDI-P, sebenarnya tidak ada yang salah

Hanya saja kebanyakan di antara kita kalau sudah pro terhadap 1 sisi, cenderung enggan untuk mencoba memahami sisi yang lain.

Saya sih memaksa diri untuk memahami keduanya. Dan sejauh yang saya amati, keduanya ada sisi baik dan buruknya



PRO kenaikan BBM:

Positif:

Langkah yang benar, tidak melakukan pembodohan kepada masyarakat dengan “harga palsu”

Mengurangi kemungkinan kecurangan, korupsi akibat kesenjangan harga minyak antar Negara bahkan daerah di Indonesia

Memberi ruang untuk pembangunan infrastuktur di daerah daerah Indonesia yang tertinggal

Memberi harapan terhadap pengembangan energi alternative

Negatif:

Berat untuk seluruh rakyat Indonesia. Yang menengah ke atas bisa lebih mudah menyesuaikan, berat tapi bisa menyesuaikan. Yang menengah ke bawah akan sulit untuk beradaptasi. BLSM bagi saya beresiko.



KONTRA kenaikan BBM:

Positif:

Rakyat tidak kaget dengan kenaikan ini dan tidak terkena dampak inflasi (walaupun sebenarnya sih akan kerasa terus untuk selamanya..)

Soal anggaran ada banyak cara untuk mengisi kekurangan yang dibutuhkan seperti sisa anggaran sebelumnya dan termasuk menyumbat kebocoran kebocoran anggaran akibat korupsi

Negatif:

Kurang mendidik, karena hanya mengundurkan bom waktu. Bomnya akan meledak. Hanya saja kalau bisa meledaknya jangan sekarang. Jangan ketika kita yang merasakan nanti saya generasi mendatang yang merasakan (maaf terdengar sinis hehe)

Keterangan di atas memang sangat disederhanakan.

Intinya, 2 jalan tadi ada positif dan negatifnya, tapi secara umum keduanya benar.

Naif sekali apabila kita berpikir, hanya ada 1 jalan menuju Indonesia yang lebih baik

Buka peta Indonesia dan buka mata anda baik baik.

Lihat dan pahami bahwa Indonesia terlalu luas, terlalu beragam , terlalu banyak perbedaan untuk punya 1 solusi maha sakti yang mujarab

Lalu pertanyaan di benak anda, kalau dua duanya benar, kita menjalankan yang mana?

Jawabannya, bukan kita yang menjalankan.

Pemerintah.

Pemerintah yang punya kewenangan untuk menjalankan.

Its their choice.

Setiap pemerintahan tentu punya subjektitas dalam cara menjalankan keputusan dan dalam mengambil jalan.

Masalahnya, kita percaya atau engga kepada pemerintah

Iya kan? J

Pasti kita semua sepakat, kalau pemerintahan kita jalannya bener, bersih, baik, dan terbukti dengan nyata, kita juga tidak akan separno ini terhadap apapun keputusan yang di ambil mereka

Kalau PDI-P lebih sreg dengan jalan yang mereka tawarkan, ya silakan jalankan ketika mereka jadi partai yang berkuasa.

Kalau saya pribadi, saya akan setuju agar pengeluaran pemerintah utk subsidi BBM bisa berkurang agar bisa dialihkan kepada pembelanjaan modal.

Memang ada argument yg berbunyi begini:

“Kalau misalnya dananya dialihkan kepada infrastruktur lalu apa jaminannya benar benar akan dibangun infrastruktur tersebut?”

Pertanyaan itu sama naifnya dengan “Kalau BBM tidak dinaikkan, apa jaminannya rakyat tidak akan tercekik hidupnya?

Dengan tidak adanya listrik di daerah daerah pelosok Indonesia, air bersih tidak ada, fasilitas pendidikan yang mengenaskan, fasilitas kesehatan yang menyedihkan, sarana komunikasi yang terbelakang dan keadaan transportasi yang busuk?

Ketika saya bilang transportasi saya bukan hanya bicara tentang kendaraan umum untuk rakyat, tapi terlebih lagi, ketersediaan JALAN RAYA yang bisa mengeliminir masalah jarak dan medan di daerah daerah terpencil Indonesia

Masalah Indonesia adalah Negara kita luar biasa besar.

Bukan hanya itu, kita terpisah lautan!

Secara medan, Indonesia itu luar biasa menantang. Kalau bukan infrastruktur, lalu bagaimana lagi kita bisa membantu saudara saudara kita terutama di Indonesia Timur?

Ada lagi argumen:

“Kalau dialihkan ke infrastruktur apa jaminannya tidak jadi lahan korup?”

Pertanyaan itu sama naifnya dengan “Siapa bilang tidak ada yang korup dengan kondisi harga BBM seperti sekarang ini?”

Peluang korupsi dari selisih harga yang terlalu jauh ini, jadi arena bermain yang menarik bagi kampret kampret yang ada di Indonesia. Banyak yang membeli dengan harga murah di sini, lalu menjual dengan harga tinggi di tempat lain. Memanfaatkan murahnya harga BBM di Indonesia.

Lagipula, sudahlah. Tidak perlu kita lama lama terpecah seperti ini.

Sekarang, ketika memahami peta keseluruhan, saya baru sadar bahwa 80% dari segala pembicaraan soal kenaikan BBM ini, adalah hasil manuver politik.

Adalah hal yang pasti, PDI-P berseberang jalan dengan pemerintah. Kan mereka partai oposisi.

Masalahnya, PDI-P saat ini sedang punya 2 pertaruhan besar.

Pemilihan Gubernur dan 2014

Di Pemilihan Gubernur, citra pro rakyat pasti tercermin dalam sentimen para pemilih terhadap calon mereka. Apalagi Jokowi dan Ahok kalau dijumlah hasilnya adalah: Merakyat.

Untuk 2014, mereka butuh citra yang baik untuk mendapatkan hati masyarakat

Walaupun, perasaan saya berkata, rakyat akan ilfil ketika tahu calonnya lagi lagi adalah Megawati atau setidaknya Puan Maharani. Kenapa ilfil? Gimana rakyat percaya PDI-P pro demokrasi kalau partainya aja kayak kerajaan gitu. Tidak bisa move on dengan calon diluar keturunan Bung Karno.

Salahkah PDI-P melakukan politik pencitraan seperti itu? Ya ga salah secara politis

Cuman aja saya sebel karena alasan utama mereka terhadap penolakan BBM bukan karena baik untuk rakyat, tapi karena baik untuk citra partai.

Buktinya? PKS yang harusnya 1 suara dengan koalisinya, malah asik asik koar koar di media tidak setuju. Semua demi citra yg “pro” rakyat.

Here’s what I know about leadership: Leaders often time, make the hard decision because it’s the right thing to do

Ketika misalnya, anda memilih saya untuk memimpin. Maka saya akan ambil keputusan keputusan yang terbaik. Tentu saya akan mendengar suara anda, tapi saya harus tetap mengambil jalan yang benar. Anda memilih saya (harusnya) karena anda percaya saya kompeten di mata anda. Kalau benar begitu, biarkanlah saya bekerja. Saya tidak harus mengambil keputusan yang anda inginkan hanya untuk memenangkan hati anda. Saya sudah terpilih. Kalau ada yang ingin memenangkan hati anda, itu adalah karena mungkin dia mau mengambil jabatan saya.



Alasan politis kedua, adalah bahwa semua ini gara gara SBY juga

Tahun 2008 atau 2009 saya lupa, Presiden SBY memutuskan untuk menurunkan harga BBM. Dua kali bahkan

Beliau sendiri yang muncul di TV untuk penurunan BBM. Taking credit. Seakan akan itu keberhasilan beliau. Padahal dalam kenyataannya, memang harga minyak dunia lagi turun

Mengapa turun?

Bayangkan anda dagang pisang. Lalu pembeli terbesar anda, bangkrut dan tidak bisa beli pisang anda. Takut pisang anda busuk, anda akan menjual pisang anda dengan harga yang murah.

Itulah yang terjadi di 2008. Amerika Serikat, kolaps. Pembeli terbesar tidak lagi mampu membeli, maka harga minyak dunia turun.

Alasan SBY menurunkan harga BBM adalah “Untuk terus menyesuaikan dan mengikuti trend harga dunia”

Maka ketik a harganya turun, ya SBY ikut turunkan.

MASALAHNYA, ketika harga minyak dunia naik lagi di tahun 2010, dia nggak kembali menaikkan harga. Padahal katanya dia ingin terus menyesuaikan. Mengapa tidak dinaikkan?

Kayaknya (ini opini subjektif ya) karena takut citranya jelek di mata rakyat.

Benar kata Mas Arief, harusnya naikin aja setelat telatnya 2011 ketika kemampuan konsumsi rakyat Indonesia lagi hebat hebatnya.

SBY yang terlalu so slow bimbang you don’t know, akhirnya blunder sendiri ketika mentri mentrinya bilang, kenaikan tidak dapat dihindari.

Akhirnya, dia harus mengambil jalan yang ga enak, meminta DPR utk merevisi UU yg berkaitan dengan subsidi BBM. Ketika, dia minta bantuan DPR, maka DPR yang berisi partai partai pencari kesempatan dalam kesempitan, langsung riang memanfaatkan keadaan. Seperti piranha yang mencium bau darah. Kecil kecil, banyak, beringas.

Nah alasan politis ketiga:

Ada yang tidak mau kita mengembangkan energi alternatif

Siapakah orang orang itu?

Ya orang orang yang hidup dari migas.

Mereka mencoba agar ketergantungan terhadap BBM tinggi karena investasi dan bisnis mereka besar di migas. Walaupun gas dipegang mereka juga dan ada kecenderungan beralih ke gas, tapi sesungguhnya iklimnya belum siap. Konsumsi BBM masih sangat tinggi.

Kebetulaaaaaaaan, ada petinggi partai, ada mentri yang bisnisnya di migas. Hehehe..

Padahal, peneliti dari Negara Negara lain iri dengan Indonesia, bahkan memberi julukan Indonesia sebagai Negara dengan sumber energy terbarukan terbesar di dunia.

Panas bumi

Matahari melimpah (ingat khatulitiwa?)

Arus bawah laut (ingat lautan kita yang merupakan bagian terbesar Indonesia?)

Dan masih banyak lagi, merupakan kekayaan kita yang tidak bisa digali untuk kebaikan bangsa kita sendiir.

Karena apa? Karena dihalang halangi. Ada yang tidak mau harga BBM naik karena akan memberi jalan kepada eksplorasi energy alternative. Kalau eksplorasi itu berjalan, jelas bisnis mereka akan mati

Percaya sama saya, semua perusahaan migas dalam dan luar negri membubuhkan kata “alternative energy” di website mereka, tapi sedikit sekali yang benar benar serius menggarap ke sana Mereka membubuhkan itu agar terkesan “peduli lingkungan”



Saya kasih fakta penutup:

Saya sedang baca buku “The Future Of Freedom” karya Fareed Zakaria. Disitu ditulis, dan ini didukung dengan sumber sumber lain yang saya baca di internet:

Negara yang masih mengandalkan natural resources tidak bisa berkembang secara ekonomi.

Negara yang ekonominya tidak berkembang, susah untuk bisa meraih kebebasan dari demokrasi yang benar. Ada satu hal yang disebut illiberal democracy alias demokrasi pura pura, contohnya pemerintahan Presiden Soeharto.

Mengapa kalau mengandalkan natural resource tidak bisa mengembangkan ekonomi? Karena bisnis bisnis sumber daya alam bisa berjalan tanpa fundamental perekonomian yang sehat.

Salah satu contoh sederhananya, bisnis SDA tidak menarik banyak SDM . Padahal menurunkan angka kemiskinan bisa dilakukan dengan membuka lahan pekerjaan seluas luasnya, sementara bisnis di Indonesia belum memiliki ekosistem yang cocok. Ekosistem terhadap bisnis belum cocok karena masih bergantung kepada bisnis berbasis Sumber Daya Alam.

Contoh, Venezuela. Kaya akan sumber daya alam memiliki simpanan minyak bumi terbesar di dunia di luar Negara Negara timur tengah, lama berkutat di sana, akhirnya economic mismanagement yang berujung kepada political corruption

Lagi nih..

Apa persamaan dan perbedaan Cina dan Russia?

Persamaannya, sama sama ingin menuju kemakmuran

Perbedaannya, Russia mengambil jalan perubahan politik dengan harapan ekonomi kemudian akan membaik. Sementara Cina merubah system ekonomi mereka jadi lebih terbuka dan efeknya (diluar keinginan mereka) politiknya jadi lebih terbuka.

Memang sekarang Cina masih represif, tapi sekarang rakyatnya mulai berani melawan DAN MENANG.

Tahun 97 rakyat Cina melakukan tuntutan kepada pemerintahannya sebanyak 90.557 tuntutan. Bandingkan dengan jumlah tuntutan yang dilakukan rakyat kepada pemerintah di tahun 1984: 0 tuntutan.

Sementara Russia masih berkutat dalam perjuangan politiknya. Kenapa susah memperbaiki politiknya? Selama perut orang orang masih lapar dan masih banyak orang orang yang kurang terdidik, potensi pelencengan di atas sana selalu besar.

Ekonomi membaik = rakyat yang lebih makmur = pendidikan lebih terjangkau = masyarakat yang lebih cerdas = rakyat yang lebih kritis = Pemerintahan tidak bisa lagi membohongi rakyat = Praktek politik yang benar = Pembangunan yang baik = Negara yang hebat

Sederhananya gitu..

Perubahan ekonomi yang lebih baik selalu dalam sejarah dan hingga hari ini, mengakibatkan perubahan ke arah pemerintahan yang lebih sehat.

Jadi sekarang pertanyaannya, masih mau berlama lama mengandalkan minyak bumi?

Atau mau mulai berani menatap masa depan, dengan memanfaatkan potensi yang kita punya?

Kalau anda memilih untuk menatap masa depan dan memanfaatkan potensi yang kita punya, maka anda akan setuju untuk mulai meninggalkan industri berbasis sumber daya alam, yang berarti anda juga pro terhadap pemanfaatan energy alternative yang berarti juga anda setuju terhadap kenaikan harga bbm karena itu akan membuka potensi dan peluang untuk eksplorasi sumber energy alternative terbarukan.

Now, what do you think after you see the big picture?