1 day ago
skip to main |
skip to sidebar
There were little voices inside my head that kept on telling me:
'... Maybe one or two little cuts won't hurt this much... ',
' look at how worthless you are, nobody's gonna love you... ', '... You little piece of shit ',
etc.
You stopped them. And words can't describe how much I love you for that................. But now they're back. 'Cause in the end, I'm still a good-for- nothing, even in your eyes.
Have you watched How I Met Your Mother Season 09 eps 17 ?
If you haven't, ... maybe you should.
Because Ted Mosby finally made an excellent speech about love in that episode.
And I don't see him as a loser character anymore.
favehotel MEX Surabaya
Jalan Pregolan 1,3,5 Surabaya 60262
East Java - Indonesia
t: +62 31 535 5508
f: +62 31 535 5509
http://www.favehotels.com/hotellist/ind/13/favehotel-mex-surabaya/local
This night is an almost great night. Not too breezy night, not too hot either. Relaxing smooth jazz music on. Yummy drinks. There's only one thing missing from making this a great night.
Renungan hari ini :
Ada sedikit komentar dari teman, mengapa cengeng ketika kehilangan orang yang kita cintai? Seharusnya dia yang sedih karena kehilangan orang yang begitu mencintainya.
Pages
Tuesday, June 2, 2015
... after all these years
There were little voices inside my head that kept on telling me:
'... Maybe one or two little cuts won't hurt this much... ',
' look at how worthless you are, nobody's gonna love you... ', '... You little piece of shit ',
etc.
You stopped them. And words can't describe how much I love you for that................. But now they're back. 'Cause in the end, I'm still a good-for- nothing, even in your eyes.
Tuesday, June 24, 2014
My life with dogs ...
Sekitar dua mingguan yang lalu, mama ada komentar, ketika aku lagi angkat bag dogfood, untuk dipindah ke container Tupperware. Dia bertanya tentang harganya dan apakah mahal... Aku tidak menjawab, karena aku tahu pasti ujung-ujungnya kritik. Tak perlu tunggu lama, kalimat berikutnya yang keluar dari dia adalah betapa sayangnya buang-buang uang untuk beli dogfood, dan tidak ada untungnya memelihara anjing-anjing.
Bukan sekali ini dia berpendapat begitu... Sebenarnya sudah berkali-kali pula dari sejak kecil dia merasa tidak ada untungnya memelihara anjing. She's not a dog person... Dia lebih berpikir punya peliharaan itu sebagai properti, bukan teman. Mungkin dia sebel banget kali ya, ada satu anaknya yang ini, yang ngeyel banget suka anjing... :D
![]() |
| Zoro - Acel - Puppi |
Ya, sekarang ini aku punya 3 ekor anjing di rumah, yang menjadi full responsibility'ku untuk memberi mereka makan.
Ya, memang aku tidak mendapatkan keuntungan materi apapun dari mereka, karena aku tidak pernah berencana untuk memperanakkan mereka. Toh anjing-anjingku bukan anjing kompetisi.
Anjing-anjing gak jelas malah... Satu Maltese tanpa stambum. Satu mixed-bred, chow-chow x labrador. Satu lagi, well... gak jelas rasnya apa :p . Gak yakin bakal ada yang mau anakan mereka hihihihi....
Jadi memang, mereka tidak menghasilkan uang. Bahkan mungkin secara materi, aku keluar lumayan banyak untuk mereka, karena dogfood pun aku usahakan bukan yang berkualitas rendah. Tidak sanggup untuk beli yang kualitas super premium juga sih, tapi kuusahakan bukan yang dapat rating rendah juga. Untung ada discount karena langganan juga sih, jadi sedikit membantu harga untukku dikurangin dikit. Tetap saja, bukan harga yang murah. Karena ada yang anjing besar juga, makannya banyak. :p Jadi dalam sebulan kadang bisa harus beli 2 bags. Belum kalau harus check ke vet, atau grooming di salon. Dengan gaji seorang karyawan yang tidak banyak, tentu pengeluaran untuk mereka termasuk cukup lumayan. Kira-kira 20% dari bulanan deh. Kadang untuk mengakali budget yang ketat, terkadang aku juga harus memberi mereka makanan-makanan sisa. Grooming juga tidak bisa rutin.
Jadi apa untungnya memiliki peliharaan ini?
Aku juga tidak tahu, apa sebab awalnya kok bisa aku jadi dogslover. Waktu kecil juga bukan aku yang meminta ingin punya anjing. Tapi karena memang papa duluan yang membawa pulang seekor anjing yang terlantar di jalan. Dalam hal ini, i am grateful that my dad taught me to be compassionate with strays. Punya anjing tidak harus anjing ras. Anjing kampung pun, sama-sama anjing dan punya hati yang sama sebagai seekor anjing.
Masa kecil, aku lebih sering sendiri. Karena orang tua juga bekerja full time. Jarang ada quality time dihabiskan bersama. Mungkin itu juga yang menjadi alasan mengapa akhirnya anak-anak diberi peliharaan anjing, biar jadi teman .... Mungkin mamaku nyesel kali ya, akhirnya ada satu yang kebablasan jadi gak bisa hidup tanpa anjing. :p
Dulu meskipun di rumah ada anjing, aku tidak bisa membela mereka dengan sepenuhnya. Mama lebih suka anjing-anjing berada di dalam kandang besi. Tidak lari kesana kemari dengan bebas. Yaaa karena dulu aku masih kecil, dan tidak punya kebebasan ekonomi sendiri, terpaksa menurut. Meskipun kalau misalnya aku sudah pulang dari rumah, aku lepaskan. Pernah juga ada saatnya, ketika masa SMA, tidak punya anjing. Karena anjing-anjing sebelumnya sudah meninggal, atau ada yang dikasih ke orang untuk pemeliharaan yang lebih baik. Waktu itu juga meskipun aku bisa menyibukkan diri dengan sekolah atau dengan pacar, tetap saja rasanya sepi, ketika malam hari sendirian.
I am shy... Tidak mudah bagiku untuk bisa nyaman dengan orang lain. Entah kenapa, I always unknowingly created barriers. Mungkin takut. Karena sudah banyak hal-hal yang buruk terjadi di dalam hidupku, yang membuat aku trauma. Sebenarnya sudah dari kecil aku punya symptoms ke clinical depression. Masa tumbuh besarku, meskipun berkecukupan, but I was lonely. Banyak hal-hal yang kusaksikan sewaktu aku tumbuh besar, yang membuat aku kecewa dan skeptical akan kebahagiaan. Sering aku merasa bahwa aku tidak diinginkan. Apa itu kebahagiaan....? Aku tidak punya energi banyak untuk mencari tahu, yang kuinginkan hanyalah orang menginginkanku.
Aku juga mengidap social anxiety disorder, aku jadi tidak punya banyak teman. Keluargaku, kalau bisa dibilang, kami tidak seperti keluarga ideal pada umumnya, yang bisa punya ikatan bonding satu sama lain. We're basically all alone, but stuck as a family.
Paling parah adalah ketika akhirnya aku ke Aussie untuk kuliah. Makin tertantang untuk survive seorang diri. Meskipun ada beberapa teman kuliah, kondisiku memang tetap membuat aku tidak bisa begitu mudah nyaman dan akrab dengan orang lain. Don't get me wrong, I'd love to have friends.. Kalau orang bisa sampai bisa masuk and gain my trust, aku bisa jadi orang paling baik and do everything for them.
Tapi untuk bisa sampai kesitu, umumnya orang tidak mau keluar effort sebanyak itu untuk menjebol barrier-barrier yang kuciptakan. Mungkin memang gak worth it ..... So I spent years all alone.
Jadi pada saat kuliah itu lah, aku benar-benar punya keinginan, I had to have dog. Kalau tidak aku bisa gila .... Roommate saat itu juga punya anjing, jadi aku makin ingin untuk punya anjingku sendiri. I didn't want to come home feeling all lonely anymore. Aku membeli seekor anak anjing, ketika aku sendiri tidak yakin apakah bisa menjaganya. Memang aku bisa memberi dia makan, tapi aku tidak yakin apakah aku bisa menjadi tuan yang baik buatnya. Mungkin memang egois alasanku saat itu untuk memiliki anjing, seakan-akan aku ingin punya mereka untuk memenuhi keinginanku sendiri, di saat aku sendiri tidak yakin bisa memenuhi kebutuhan dia. Kondisiku menjadi semakin parah dan banyak peristiwa yang terjadi membuat aku semakin crippled untuk bertahan hidup. I had to give away my dog to other friend, yang bisa memberi kehidupan yang lebih baik, untuk kebaikan anjing itu. Lalu aku pulang ke Indonesia, ke rumah orang tua, setelah tidak ada lagi yang bisa kulakukan di Aussie, dengan kondisi mental hancur. Sudah ke tahap suicidal, tidak ada lagi yang membuatku ingin tetap hidup.
Pada saat itu, di rumah sudah ada 2 ekor anjing itu. Anjing pertama, yang mixed-bred chowchow x labrador, adalah pemberian dari teman mama. Mama sebenarnya tidak masalah punya anjing, asal sebatas properti. Dan sebenarnya yang lebih banyak mengasuh adalah kokoku, yang saat itu sudah selesai kuliah dan kembali ke rumah. Anjing kedua, maltese tanpa stambum itu, juga kokoku yang membeli. Aku sudah pernah bertemu mereka berkali-kali, ketika aku pulang liburan musim panas. Jadi ketika aku kembali permanently ke rumah, anjing-anjing ini tidak merasa canggung untuk menyambutku pulang.
Jadi, di dalam kondisi terpuruk itu, aku seperti hidup dan mati. Tidak ada energi sedikitpun untuk bangkit. I spent most of the times, locking myself in my bedroom, wishing I wouldn't wake up again. Keluargaku sama sekali tidak punya pengalaman untuk dealing with what I have, and I pushed them away too. I couldn't trust anyone. They hoped aku akan bangkit dengan sendirinya, eventually.... Di saat-saat gelap itu, anjing-anjing kokoku tidak pernah punya prejudice apapun. Mereka tetap menyambutku ketika akhirnya aku keluar dari kamar. Mereka tetap menggoyangkan ekornya ketika aku mendiamkan mereka. Dan mereka tetap ada di sampingku, ketika aku menangis. Itulah kehebatan makhluk ini ... They never judge. They'll be there no matter what. Meskipun aku di saat itu tidak bisa berbuat apapun untuk mereka, mereka tetap mau menghampiriku, dan terkadang berbaring di sampingku. Merekalah, yang membuat aku bertahan. And I am grateful that God lets me to have dogs.
Perlahan aku bangkit, mungkin dengan alasan yang hanya sepele. Kokoku sudah berkeluarga, dan meskipun aku memegang prinsip kalau sudah berkeluarga, bukan berarti peliharaan tidak lagi dijaga, aku pun tidak berhak memaksa kokoku untuk tetap membiayai anjing-anjing itu. Mungkin perlahan aku memakai keberadaan anjing-anjing itu, untuk pijakan. Aku memutuskan untuk mencari kerja, karena aku ingin punya uang untuk tetap dapat membiayai mereka. Perlahan dengan hadirnya anak-anak di keluarga kokoku, aku juga mengambil alih anjing-anjing itu. Sekarang, mereka lengket mengikutiku kemanapun aku berada di rumah.
2010, mungkin menjadi tahun yang benar-benar merubah hidupku. Di saat perlahan aku bangkit, hadir pula seseorang itu yang secara hebatnya mampu mendobrak segala barriers tebal yang kubangun, sehingga aku benar-benar merasakan, this is love. Bukan cinta semu yang kualami bersama mantan-mantan yang lain. Dan dari orang inilah, aku mendapat hadiah seekor anjing lagi. Anjing yang special, meskipun bukan anjing mahal. Meski akhirnya hubungan itu harus kandas dengan tragis pula, tapi aku punya kenangan yang indah dan anjing pemberian itu yang selalu menjadi my treasure.
![]() |
| ... my Zorro ... |
Jadi apa untungnya aku tetap ngotot memelihara anjing-anjing itu ?
Mungkin aku bisa lebih kaya, lebih punya banyak uang tanpa mereka. Mungkin lebih mudah juga mencari pendamping, (meskipun secara pribadi aku tidak terlalu ingin mencari lagi juga). Must love dogs, menjadi syarat utama yang tidak bisa dihapus.
Mengapa aku ngotot tetap memilih mereka....?
Karena sebenarnya dari merekalah, aku belajar untuk hidup, dan mencintai. Tidak terhitung banyaknya aku mengecewakan mereka,... sampai sekarang pun masih. Ketika ada saatnya aku terlalu lemah, dan aku tidak mempunyai energi untuk bermain dengan mereka, mereka tetap mendampingiku, tidur di sampingku. Dan menyambutku dengan senyum lebar keesokan harinya ketika aku bangun tidur, seolah semalam ketika aku tidak memberi mereka perhatian, tidak menjadi masalah bagi mereka.
Mereka juga mengajarkanku untuk tidak mendendam. Meskipun terkadang aku memarahi mereka, mereka tidak lama untuk kembali tersenyum lagi kepadaku.
Mereka tetap menantikanku, ketika aku harus pergi dari rumah separuh hari untuk bekerja, sehingga mereka harus sendirian di rumah, mereka tidak marah. Di saat aku pulang, mereka tetap menyambutku dengan ramai sekali, no hard feelings. Sepertinya highlight of my days setiap harinya selalu adalah 2 menit dari saat aku menekan bel pintu, dan melihat mereka lari menyongsongku.
Anjing memberi banyak pelajaran baik dalam hidup, dimana manusia pun terkadang tidak bisa melakukannya.
Tidak ada keraguan dalam hatiku untuk menyatakan, they love me. It's something that I need. And I love them. Meskipun kami tidak bisa mengerti satu sama lain, tidak ada komunikasi verbal yang berarti, tapi kami tahu, we love each other.
Dan kalaupun ketika pada saatnya mereka nanti tidak ada, jika kondisi memungkinkan, aku akan tetap memiliki anjing. Apapun kondisinya, aku akan tetap menjadi seorang dogslover.
Tuesday, April 15, 2014
Why can't people stop littering?
I hate to litter. I am not a clean-freak person; in fact, most of the times I have a messy and quite dirty room 'cause it's a bit hard to keep up to be neat when you're living with three spoiled dogs running around. But still, I don't like to litter, especially in public places. I don't like to see people litter consciously. And even harder when it's your own family apparently likes to litter, in this case, my own mom.
Sebenarnya saya sudah tahu, kalau keluarga saya juga bukan pengikut Go Green Life atau Environmental Friendly People. Bertahun-tahun saya mencoba untuk mengajak keluarga untuk memakai reusable bags ketika belanja, sampai sekarang ini juga masih belum berhasil, mereka masih favorit dengan kantung plastik, yang ujung-ujungnya jadi menumpuk di rumah, nanti malah jadi sampah tempat persembunyian tikus.
Masalah sampah memang seringkali disepelekan. Kebanyakan dari kita tentu tidak tahu, sampah kita nanti lari kemana. General knowledge sih ya diangkut oleh para pemulung di tempat pembuangan akhir, yang kita juga tidak tahu kan nanti kemana, apakah bisa direcycle atau dihancurkan, atau tetap jadi sampah yang makin hari membusuk ? Jujur saya pun tidak tahu, sampah-sampah saya juga akan end up kemana... Tapi alangkah naif kalau karena alasan itu, kita lantas tidak peduli kemana kita harus membuang sampah.
Cerita ini benar-benar terjadi, tanpa bermaksud untuk menjelek-jelekkan keluarga saya sendiri. Ya tapi karena ini kenyataan... Few weeks ago, I was on a road trip with my family to visit my grandparents' graves. In a car, for 6-7 hours... Seperti biasa kalau sedang road trip, kami selalu membawa cemilan, makanan & minuman, terutama snack-snack untuk keponakan-keponakan saya yang masih kecil-kecil. Mama saya adalah orang yang rajin banget bawa makanan dalam perjalanan. Tapi ketika makanan itu sudah habis, tinggal bungkus-bungkus plastik / daun, dengan gampangnya dia buka jendela dan *wuzz..* buang.... Tidak hanya sekali-dua kali, ini memang benar terjadi setiap saat. Buka jendela, keluarkan sampah, dan *wuzz...* biarlah angin membawa sampah itu entah kemana.
Apakah dia peduli sampah itu nantinya bisa jatuh ke kali? Atau masuk ke rumah orang? No.
Sungguh ironis kalau sebenarnya mengetahui, she is a clean-freak at home. Di rumah sendiri, beliau adalah orang yang rajin sekali bersih-bersih rumah, dan sering kali memarahi kami atau para pembantu, kalau malas bersih-bersih rumah. Tetapi kalau keluar dari rumah, hohoho beda kasus. (^_^')
Pada saat road trip kemarin itu, saya menegur dia baik-baik. Saya bilang, "Ma, mbok ojo nyampah..."
Dan beliau dengan entengnya hanya menjawab, " Halah gak popo, ki lak luar kota .. ".
Mengetahui jawaban itu, tentunya saya juga membalas, karena saya tahu persis kenyataannya di kota kami pun, dia juga sering membuang sampah di jalan. Saya jawab, "Lho wong koe nang Solo ae yo kerep buang sakpenak'e dewe, mbok disimpen sik dinggo ngko dibuang ndek tempat sampah angel'e opo?"
Dan lagi-lagi tidak ada jawaban memuaskan dari beliau, intinya gak papa kalau buang sampah sembarangan, nanti juga ada yang membersihkan.
Singkat cerita, sampailah kami di tempat pemakaman. Beliau yang sibuk mengurusi bunga-bunga yang akan disebarkan di atas pemakaman pun, mulai sibuk berkutat dengan keranjang berisi bunganya. Sampai pada akhirnya ketika bunga-bunga selesai dipreteli, ada satu kantong plastik hitam bekas tempat bunga, beliau lempar kemana hayo..... =P . Ke kuburan sebelah. (-_-') .
Tentunya saya juga masih bisa menegur, saya bilang, "Nang kuburan weh kok yo jik nyampah to.. Nang dalan nyampah, nang kuburan yo nyampah."
Mungkin beliau kali ini sedikit tersinggung, karena saya terang-terangan menegur. Beliau malah balik menjawab, jika saya ingin Indonesia bersih, ya silahkan saya jadi Presiden. Kemudian beliau kembali melanjutkan, bahwa Indonesia itu punya SDM yang rendah, manusianya bodoh-bodoh, banyak yang buang sampah sembarangan, tidak bisa dididik untuk disiplin.
Sebenarnya secara tidak langsung beliau juga sedang membodohkan diri sendiri.
Sangat tergelitik sekali saya untuk menjawab, jika kita memang bisa lebih pintar, mengapa kita harus ikutan jadi bodoh? *sigh* Untungnya saat itu cuaca sedang panas sekali, sehingga saya malas keluarkan energi banyak untuk berdebat.
Kita tidak perlu jadi scientists untuk bisa merubah dunia ini. Kita hanya perlu sedikit kepedulian. Memang kebanyakan dari kita tidak tahu dan tidak cukup intelektual untuk mengetahui bagaimana sampah bisa diolah. Tapi apa salahnya kalau kita sedikit peduli, akan lingkungan kita?
Bayangkan misalnya rumah Anda, tiba-tiba dilempar kantung plastik berisi sampah... Itu yang terjadi kepada binatang-binatang yang tinggal di kali.
Saya yakin tidak hanya binatang liar yang mengalami ini... Pasti juga ada orang-orang lain yang tidak beruntung, mendapat kiriman sampah dari orang lain di lingkungan mereka.
Kita seharusnya tidak hanya peduli dengan kebersihan lingkungan kita saja, dan tidak peduli dengan rumah orang lain, karena rumah kita sendiri pun adalah rumah orang lain bagi mereka.
Wednesday, March 19, 2014
I miss having someone to talk to.
Someone who's excited to see me. Who can listen to all my ramblings without interrupting. Who can make me feel comfortable to tell my stories, without feeling ignored. One whom I can trust to talk to without any prejudices. And the closest thing I have is, my dog(s).
I've been searching for it for years. Since my childhood even. I've jumped to many different social circles, just to realize nobody really cared whether I'm around or not. For years I've tried to muster up strength to be social, but honestly it's hard. People don't really get it that for some people like me, even going out for a coffee needs great strength that doesn't come everyday. And when it happens, but then they don't even bother to ask me, or to let me finish my story, it'll become another disappointment that later at night, I blame myself for even trying.
I know, with my conditions, with it's been established that I have clinical depression and social anxiety disorder, it's also hard for people to understand and to like to be around me. Who wants to be around negative person? No one. Which then makes me feel guilty. So most of the times I think it's easier if I choose to just fake it. Show them the 'happy' me. The 'contented' me. That's what people want anyway.
Even though deeply I feel hollow and in the end of the day, I'd feel more miserable. Living day by day suffocating from these heavy feelings in my heart, and trying my best to survive.
So, yeah... I miss having someone to talk to. But I guess I really shouldn't hope for much.
Tuesday, February 25, 2014
Ted Mosby's Definition of LOVE
Have you watched How I Met Your Mother Season 09 eps 17 ?
If you haven't, ... maybe you should.
Because Ted Mosby finally made an excellent speech about love in that episode.
And I don't see him as a loser character anymore.
If you're looking for the word that means caring for someone beyond all rationality and wanting them to have everything they want, no matter how much it destroys you, it's love! And when you love someone, y-you just don't stop. Ever. Even when people roll their eyes, or call you crazy.. Even then, especially then! Y-you just don't give up, because if I could give up, if I could just take the world's advice and move on, and find someone else that wouldn't be love! That would be some other disposable thing that is not worth fighting for... But that is not what this is.
Tuesday, September 24, 2013
Good girl... Or bad girl...?
So here's my thought about being a girl, for girls. You have two options, you either become a good girl, or a bad girl. Can't be both. You're still attractive for guys, but guys (at least that I've known of) will treat you differently.
Bad girls. There's always a guy who's after you for some time. They want to hang out with you. Be together with you. They'll flirt with you. You get their attentions. They want to sleep with you. But most of them don't want to marry you.
They'll settle for you, good girls. They will marry you. They will grow old with you. They will come home to you.
But they'll treat you like you're a family. Not a lover. The one in their mind while they're fucking you, is the bad girl. And they do the nasty good stuffs sex-wise, with bad girls. They'll sneak up some time to spend with the bad girl, for some things you can't give them because as a good girl, you can't do what they do.
So in other words...
Bad girls get the most of a guy, but the society will frown upon them.
Good girls are more reputable, but let's face it, there's a possibility that guys will look for a side-dish. No matter how good the guy is, it's in their nature. It's just a matter of whether they have the chance or not. They'll spend most of their youths dating bad girls, sleep around, breaking hearts, OR maybe they will only date you, for fun, then when it comes to settle down, BAM! They'll dump you. And they'll marry the good ones.
So who do you want to be ?
I am the bad girl, apparently.....
Monday, June 17, 2013
About believing ....
I've spent 75% of my life so far, looking for happiness.
The lack of attention and love in the early years, was the driving urge of living the dream.
Then three years ago, when that happiness came, I fought for it.
And I fought hard.
Hard enough to eventually break me down, just to fight for that happiness.
So when the only thing in this world that can make me being real and happy, is fading away, .... what is left for me?
I lose faith. In believing that happiness is indeed real.
Maybe it's all an illusion. Or maybe it is not destined for me.
I realize.... that I am not worthy enough for such luxury.
Friday, January 25, 2013
Fave Hotel - MEX Surabaya
Beberapa waktu yang lalu, I had a chance to go to Surabaya for couple days. Short quality time. Perjalanan yang mendadak sih, but thankfully I still managed to get a room available in Fave Hotel. Fave Hotels by ASTON in my mind sudah seperti McDonalds, good value in affordable prices. :D No offense, I actually love McDonalds.
This one in Surabaya is the third Fave I've been in. Sebelumnya sudah pernah mencoba Fave Hotel di Solo yang ada di Jln. Adi Sucipto, dan juga Fave Hotel Kusumanegara, Jogja. Classic problem yang biasanya aku temui ketika menginap di Fave Hotel adalah, kecil dan kurangnya lahan parkir. Apalagi di favehotel Adi Sucipto, Solo. Meskipun gedungnya termasuk tinggi dengan adanya banyak lantai, kamar-kamarnya terbilang cukup kecil sehingga untuk 2 orang berjalan secara leluasa pun agak sulit. Dan lahan parkir yang ada di basement, if you happen to bring your own car, it may feel like you're going through a driving license test. Karena space yang tersedia tidaklah terlalu besar, jadi skill mengemudi yang handal jadi peran penting jika mau parkir di dalam basement. Atau kalau tidak mau repot, mendingan parkir di luar, di pinggir jalan.
Hal yang sama juga aku hadapi ketika ada di favehotel Kusumanegara, Jogja. Meskipun secara lahan, lebih luas daripada yang ada di Solo, tetapi lahan parkir yang tersedia di muka hotel (tidak ada parkir basement) tidak terlalu banyak. 2x saya bolak-balik, tidak dapat spot parkir di area hotelnya. Jadi mobil harus diparkirkan di lahan kosong dekat situ, jalan kaki sebentar, yang tentunya harus membayar parkir, yang sepertinya dikelola oleh orang luar, bukan pihak hotel.
Meskipun demikian, service dari favehotels terbilang cukup lumayan. Meskipun kamarnya berkonsep minimalis, tidak terlalu besar tapi cukup bersih dan lumayan enak ranjangnya, harganya juga wajar. Rata-rata I spend around 300k-400k for a night in a standard room. Not bad, if you're not looking for anything glamorous and needing a comfy place to stay. I only need a hotel room to wash up and sleep in anyway, because most of the times I probably spend my time with culinary experience. :D
Fave Hotels - MEX Surabaya, lebih seperti small apartments complex, tidak seperti hotel pada umumnya. Hanya ada 5 (atau 6 - I forgot) lantai di gedung itu. MEX is the name of the building. Dari luar mungkin tidak terlalu terlihat jika ada hotel disana. Lokasinya cukup menyenangkan, masih walking distance to Tunjungan Plaza, sekitar 10 menit untuk jalan kaki kesana. Dan juga di seberang jalan ada BonCafe Steak Restaurant, which I will share later (delicious!).
Gedungnya tidak tinggi, dan ada banyak petunjuk service lainnya disitu, seperti restaurants etc. Untungnya kali ini tidak membawa kendaraan pribadi, karena sepertinya aku tidak juga menemukan are parkir yang besar di sekitar situ. I rely on taxi, which is great karena di hotel ini ada taxi spot, sekitar 5-8 taxi selalu stand by disana. Ketika masuk ke dalam gedung, yang ditemui di lantai bawah adalah a fancy Chinese Restaurant (Fu Yuan). Jadi pertama kali masuk sempat celingukan mencari, dimana ya ini hotelnya.
Ternyata setelah tengok kanan-kiri, ada satu papan kecil di tembok yang bertuliskan kalau lobby favehotel ada di LANTAI 3 ! Nah lho. Jadi dari pintu utama (yang biasanya tempat drop-off), begitu masuk belok kiri yah, ada 2 elevators yang membawa kita ke akses masuk favehotels.
Di lantai 3, begitu keluar dari elevator, langsung merupakan area receptionist favehotels. Somehow, aku merasa ini seperti kantor-kantor airlines. Jadi tidak terasa seperti mau check-in hotels, malah seperti mau check-in penerbangan hehehe. Karena suasana gedungnya lebih seperti business area.
Anyway, setelah check-in, diberi kunci kamar, yang ternyata ada di LANTAI 2! Hooo....
Lantai 4 dan 5 untuk kamar suites, I think. Jadi di lantai 2, begitu keluar dari elevator, ada 1 pintu kaca, which is electrically secure-locked, yang bisa dibuka dengan kunci kamar. Jadi kunci kamar itu fungsinya ada 2, membuka pintu utama, dan masuk ke kamar kita. Begitu masuk, terasa ambiencenya seperti ada di apartment building. Ada 2 lorong, dan kamar-kamar hotelnya pun as usual, tidak terlalu besar. Tapi sudah cukup lumayan sizenya, untuk 2 orang bisa jalan dengan leluasa. Dan seperti ada di kamar favehotels yang lainnya, di area shower, ada tirai yang bisa dibuka untuk menambah kesan kamar lebih luas. Jadi dari ranjang bisa lihat ke dalam kamar mandi, jika tirai itu tidak di tutup. I think it's a clever idea of the architect. It gives a feeling that we are in a pretty big room, meskipun kenyataannya tidak terlalu besar.
Salah satu keunggulan dari favehotel - MEX, Surabaya ini, adalah there is access to food 24 hours ! Jadi ceritanya aku dan partner menghabiskan waktu dengan jalan-jalan di mall-mall, sampai akhirnya dinner pun jadi terlupakan. Sekitar jam 11 malam, lapar lah. Bingung mau makan dimana. Tapi lalu teringat di depan elevator ada banner promosi resto di lantai bawah, tulisannya open 24 hours. Masih ada juga di pinggir-pinggir jalan di sekitar hotel, beberapa gerobak makanan seperti nasi goreng Jawa, dll. Waktu itu aku penasaran mencoba yang ada di hotel, karena bannernya cukup menarik, gambar-gambar pizza, yum!
Namanya Drago La Brasserie. Kita harus turun ke lantai yang paling bawah. Bukan lantai yang tempat orang didrop off. Di tempat ini, suasananya lebih seperti bar / lounge room, tidak seperti restaurant. Masih cukup ada banyak orang pada jam segitu, tapi mereka lebih seperti nongkrong di bar dan minum. Oh and ada live music band.
Menunya juga beragam, ada Chinese food, and Western food. Since I've been craving for pizza, we settled to have a large pizza. Menunggu cukup lama, untuk orderan datang, karena sepertinya memang sudah malam jadi mungkin orang di dapur juga sedikit. But it's nice that the live band played pretty good so we didn't get bored.
![]() |
| A pepperoni pizza ! ( ^o^)/ I love pepperoni. |
Pretty yummy ! Thin crust and not too much cheese, jadi rasa gurihnya pas. It's enough for 2 people, we felt pretty stuffed after it.
Little did we know, apparently this lounge belongs to the favehotels, atau mungkin memang bekerja sama dengan favehotel. Karena esok harinya, ketika kami mencari dimana tempat kami mendapatkan sarapan pagi, ternyata disediakan di tempat ini juga. Mereka menyediakan satu meja panjang untuk tempat buffet, yang menyediakan nasi putih dan nasi goreng, dan lauk, ada juga bubur, toasts and butters or jams, coffee and tea.
![]() |
| Fried Rice, Cah Buncis, Ayam |
Satu hal yang perlu diketahui, if you're looking for an egg station, they're hidden. Yes I am telling it literally. Kalau kalian hanya memandang ke sekitar secara sekilas, mungkin kalian tidak akan mengira kalau mereka juga menyediakan egg station. I was almost done with my meal when I caught a sign in the kitchen that they provide it. Sign nya pun kecil, seperti papan nama yang ada di meja direktur :D. So make sure to talk to the chef inside, to order some eggs. The chef was pretty nice. I didn't have to stand around waiting for my eggs, he offered to deliver them to my table.
One unique thing about this place, is how crazy they are in making pizzas. Good crazy, not the bad crazy. They use many kinds of variety in their pizza. Begitu pula waktu menyediakan sarapan untuk tamu hotel. Ada satu booth kecil khusus yang menyediakan 2 loyang pizza, dan bukan pizza pada umumnya karena ternyata adalah dessert pizza. Pizza yang pada umumnya bertopping daging / sayuran, disini ada pizza bertoping buah. Dan sausnya ternyata adalah selai. So it's still pizza crust, but with jam and fruits on it.
![]() |
| Pizza topping KISMIS - dan Pizza topping NANGKA |
They tasted good actually. Waktu itu ada juga pizza topping KACANG MERAH, yang sayangnya keluar baru setelah kami sudah selesai makan, and I was feeling stuffed already so I didn't try that one.
Will I stay there again if I have a chance? Yes. :)
favehotel MEX Surabaya
Jalan Pregolan 1,3,5 Surabaya 60262
East Java - Indonesia
t: +62 31 535 5508
f: +62 31 535 5509
http://www.favehotels.com/hotellist/ind/13/favehotel-mex-surabaya/local
Saturday, December 22, 2012
Pemerintahan yang bersih? Atau masyarakat yang bersih?
Disclaimer : Segala statement yang ditulis berdasarkan opini, bukan bermaksud untuk menjudge pihak tertentu.
Sebagai pribadi, yang sehat jiwa raga, tentunya kita menginginkan hidup di lingkungan yang bagus.
Benar begitu?
Lingkungan yang bagus, tidak hanya dari keluarga, tapi juga dari lingkungan sekitar kita seperti di hidup bertetangga, bersosialisasi, sistem yang bagus.
Benar begitu bukan?
Lalu kalau kita sebagai masyarakat yang menganut sistem demokrasi, yang bersedia untuk dipimpin oleh suatu sistem pemerintahan, tentunya kita mengharapkan pemerintah yang bersih dan baik.
Bukan begitu?
I am not really interested in politics, to be honest. Never really cared about it, because i used to think everyone in the government is full of BS, and I still do. Meskipun ketika akhirnya saya bisa dapat KTP, dan memiliki hak suara dalam pemilihan wakil, awal-awalnya juga saya abstain. Sikap terserah ini sebenarnya disebabkan dari rasa pesimis, apakah memang negara ini bisa punya pemerintahan yang bagus?
Bukan rahasia lagi kalau pemerintahan Indonesia dari tingkat paling kecil sampai skala yang besar, tidak sepenuhnya bersih. Sudah dari berpuluh-puluh tahun yang lalu ada korupsi, politik, penjilat, dan sebenarnya dari masyarakat pun, meski mungkin tidak semuanya, sudah bersikap kurang lebih "terserah karena tahu-sama-tahu, asal loe gak ganggu-ganggu hidup gw". Ada sih memang orang-orang yang sebagai aktivis memerangi hal-hal yang "menodai" pemerintahan, meski kadang saya ragu, apakah mereka begitu karena mereka tidak mendapat kesempatan untuk ikut "menodai"? Jangan-jangan seandainya mereka punya kesempatan untuk duduk di tempat yang sama dengan yang mereka perangi, mereka lupa akan hal yang mereka perjuangkan?
Yes... I am skeptic about it.
But then, ketika pemerintahan menjadi kacau dan rugi besar-besaran, dan masyarakat merasa dirugikan karena uang negara dilarikan oleh kunyuk-kunyuk yang ada di pemerintahan itu (yang sebenarnya ada disana karena pilihan masyarakat juga, see how ironic it is?), masyarakat pun geram. Jadi maunya apa? Tentu tetep pada impian mempunyai pemimpin dan pemerintahan yang bagus kan?
Lalu gimana memulainya?
Masyarakat kecil, pada umumnya tidak menyadari, betapa suara mereka dan dukungan mereka itu penting. Dan mereka hanya berpatokan pada hidup mereka sendiri, padahal, di dalam gambaran secara global, apa yang terjadi pada skala yang besar, pasti berpengaruh kepada skala kecil. Begitu pula sebaliknya, skala kecil pun, juga berpengaruh ke skala yang besar.
Kurang lebih begitu penggambarannya.
Sejauh ini baru punya kesempatan memilih, yah baru sekitar 5 kali. 3 kali saya abstain, karena waktu itu saya masih jadi "perantau di negara tetangga" dan tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi di negara asal. 2 kali berikutnya, saya sudah pulang kampung. Saya pakai untuk memilih walikota saya pada waktu itu, dan untuk memilih presiden untuk skala besarnya. Saya sih punya kesadaran untuk bener-bener MIKIR orang yang mau saya coblos itu yang mana. Meski pada akhirnya, saya pun tidak memahami 100% tentang calon-calon yang ada, karena yah, namanya juga politik, there must be some kind of BS going on during the campaign, tapi setidaknya kita perlu lah untuk sedikit-sedikit tahu.
Sayangnya, terkadang masyarakat kecil, tidak terlalu berpendidikan untuk mengerti hal-hal rumit di pemerintahan, dan tidak mempunyai akses untuk tahu tentang hal-hal itu. Contoh, keluarga petani atau buruh di pedesaan atau pelosok, apa mereka mengerti tentang rumitnya subsidi, anggaran, instruksi presiden, dll ? Mereka hanya tahu tentang gimana mereka bisa hidup hari ini, dan berharap masih bisa survive besok-besoknya. Dan sayangnya hal ini pula yang bisa dimanfaatkan bagi "calon" pemimpin.
Ini kisah nyata, terjadi di lingkungan saya.
Kebetulan (gak juga sih, tidak ada yang kebetulan di dunia ini...), saya bekerja di lingkungan pedesaan. Yah meskipun gak desa-desa amat, masih pinggiran kota, dan di sebuah perusahaan yang lumayan besar, sebagian besar karyawannya masih tinggal di daerah desa. You know... Yang alamatnya masih bukan berupa Jalan Blablabla... Mereka masih memakai sistem alamat Desa Prikitiew, Kecamatan Oh-Lala, dst.
Dan apa yang terjadi ketika ada pemilihan Kepala Desa, Kepala RT, Lurah, dsb?
Hal yang sering saya dengar sih, mereka lebih sering tidak "berpartisipasi" dengan benar.
Sering saya dengar, dalam pemilihan Kades, ada yang sampai habis ratusan juta. Untuk biaya kampanye. Yang sebagian sih, habis bukan di kampanye, tapi di "menyogok". Ada yang bagi-bagi sembako ke masyarakat. Ada yang bagi-bagi kain batik ke setiap warga. Dan bukan rahasia lagi, bagi-bagi amplop. Yang isinya jelas uang tunai. Bisa Rp.20.000,-. Bisa Rp.50.000,-. Bahkan ada yang pernah menerima Rp.100.000,-. Untuk apa? Pendukung calon tentunya beralasan, itu bukan sogokan, meskipun sebenarnya, ngaku saja lah, ada harapan di balik bagi-bagi itu, untuk dipilih pada waktu nanti hari H-nya.
Sering saya dengar, dalam pemilihan Kades, ada yang sampai habis ratusan juta. Untuk biaya kampanye. Yang sebagian sih, habis bukan di kampanye, tapi di "menyogok". Ada yang bagi-bagi sembako ke masyarakat. Ada yang bagi-bagi kain batik ke setiap warga. Dan bukan rahasia lagi, bagi-bagi amplop. Yang isinya jelas uang tunai. Bisa Rp.20.000,-. Bisa Rp.50.000,-. Bahkan ada yang pernah menerima Rp.100.000,-. Untuk apa? Pendukung calon tentunya beralasan, itu bukan sogokan, meskipun sebenarnya, ngaku saja lah, ada harapan di balik bagi-bagi itu, untuk dipilih pada waktu nanti hari H-nya.
Karena secara tidak langsung, "budaya amplop" ini mendidik masyarakat, untuk mengharapkan diberi sesuatu, ketika ada pemilihan. Bukti langsung sih ada... Beberapa dari rekan kerja ada yang berkata dengan jelas, "Milih sopo yo? Yo garek sopo sing ngamplopi...." (Milih siapa ya? Ya tinggal siapa yang kasih amplop...)
Ada juga yang berkata, ketika ditanya kenapa dia tidak ijin cuti masuk kerja ketika ada pemilihan ketua RT di tempat tinggalnya, "Males i teko, lha wong kenal calon'e sopo ae ora. Sak-sak'e wis." - Malas datang (untuk memilih), kenal calonnya siapa saja tidak. Terserah saja lah.
Dan ada yang lain mengompori, "Yo ra sah teko, bener. Ra entuk amplop to..." (Ya gak usah datang, benar. Gak dapat amplop kan..."
Kok mereka mau terima amplop?
Karena dapat uang cash langsung lebih enak daripada menunggu hasil pemerintahan bersih yang mungkin baru ada setelah berpuluh-puluh tahun lagi.
Dan ini lingkaran setan, saudara-saudara!
Karena masyarakat yang tidak peduli ini, melatih para calon-calon untuk mengeluarkan kocek untuk membeli suara mereka. Modal mereka juga besar. Yang tentunya akan mereka ambil balik modalnya dari mana? Ya dari waktu mereka menjabat donk.
Ketika sudah balik modal pun, apa yang menghalangi mereka untuk tidak mengambil lebih? Tidak ada. Kecuali ketahuan.....
Dari badan keamanan pun tidak lepas dari trik kotor. Banyak orang-orang yang mau masuk ke TNI atau angkatan lainnya, harus memberi "upeti" dulu ke pimpinan supaya diterima. Polisi terima suap tilang pun sudah bukan rahasia. Calon PNS pun gak lepas dari "upeti". Mereka mendaftar jadi PNS, ada beberapa yang harus "membayar". Jika orang-orang seperti ini duduk di dalam pemerintahan, apakah ada jaminan mereka bekerja dengan bersih?
Ini tidak hanya terjadi di lingkungan saya. Saya sih yakin ini ada dimana-mana. Seremnya sih kalau sampai skala nasional pun, hal budaya ini masih ada.
Lalu, pantaskah masyarakat yang "menjual suara" ini protes, ketika nanti ujung-ujungnya, keadaan lingkungan mereka penuh dengan korupsi, suap, kongkalikong?
Kalau mau mawas diri sih, seharusnya tidak. Karena jujur saja, menurut saya, mereka juga yang "encourage that kind of behavior".
Darimana bisa ada pemerintahan yang bersih, jika masyarakat yang dipimpin pun tidak bersih?
Begitu juga, darimana ada masyarakat yang bersih, jika tidak dipimpin dengan benar?
Bukankah naif, jika kita mengharapkan suatu pemerintahan yang bersih, jika sikap kita sebagai masyarakat pun tidak bersih?
Itulah rumitnya bermasyarakat....
Tuesday, November 27, 2012
How I realized I am old already.....
Have you had those experiences, where some people ask how old you are, and you JOKINGly answered " 17... " or... "20..." or any number less than 30, but deep deep down you know that you're NOT?! No?
Or maybe using that phrase " I am 17 at heart. " Because that's your defense. You may be old but always young at heart. Um... Yeah....
It's good to have those spirits. For all we know, it's nice to be young... Aaah, so thoughtless and carefree. I mean it, it's nice to be doubted that you're old. I still remember about few years ago, when I was still living abroad, every time I ventured into a casino, (not that I like gambling, that casino just happened to be near where I live, and there's a cinema there. So it's a shortcut *wink wink*. No seriously, I never gamble. Just can't afford it. :p) ... I was always being asked for an ID, to proof that I was over 18. I mean, seriously, I tried to dress well. Not in t-shirt or jeans with holes somewhere. I wore dress! And high-heeled shoes! So mature. Yet the security guards were not convinced and believed I am around 16 *cough* until I showed them my driving license, which was Indonesian driving license by the way. Um... don't they know that in Indonesia , it's easy to fake your age in the driving license? Heck I even knew a 13 year-old boy who had a license that confirmed him as a 19 year-old. Riiiight.......
So we do get old. We can't deny it. Why deny it? Although I know, it's rather hard to accept that we're not as young as we were. And maybe we just really have to realize that, after some reality things were really thrown to your face and just say "C'mon admit it! You're OLD!". And here are some that hit me.....
-> When I no longer like boy bands....
Well I still like the OLD boy bands. You know, when they were boy bands in MY era. Which they are old dudes by now. I still remember around *cough* 15 years ago, I was so crazed up about boy bands. I would go screaming all 'ooooh... aaaah...' every time they were on the radio or TVs, just like the teenagers now. Now? How am I supposed to like them when the oldest member of the band is actually way younger than me? *facepalm* Not that I hate their songs... Just not really a fan of them anymore.
-> Or no longer like music that requires too much energy to enjoy...
This is where I was torn at heart. You see, I always thought that the music in the nightclub was the coolest genre of music. I did like the beats. And it's always fun to dance to the beat. I just don't have the energy for clubbing anymore. Not that I was a club-craze chick back then, I think I went to club probably only around 5 or 6 times. But I did enjoy the music. I even had some CDs full of it. Now I think those CDs are somewhere.... um.. missing.
-> When I get dizzy looking at bright colors constantly....
Another wake-up call thing, is when I can no longer stand seeing cute girly colors for my phone theme. Ha! See! How cute are these?
It's a free blackberry theme by the way, which for a moment, hypnotized me with the bright colors, cute fonts, cute candy icons, and made me screaming KYAAAA KAWAII!! like a little girl again. It even took control of my mind and made me consciously purchased TWO themes with the same cuteness. Only to realize, after two days of using the themes, I can't stand to look at it anymore, and I am back using the more simpler theme. And I deleted the cute themes. I got dizzy. That's right. DIZZY for looking at something THAT CUTE?! That means you're old, girl..... C'mon, your own body can't take it. It's like a totally different era, when you used to be able NOT SLEEPING for 2 days, or maybe went to sleep at 4 AM, now you're sleepy already at 10 PM.
-> When my desktop backgrounds no longer feature chibi anime characters....
I like mangas. And animes. I still like them by the way 'til now. But the love has shifted. Yup.
The teenager me *cough* would read and watch them EVERYDAY, and if you log in into my computer, you'd see something like these :
Or something else cuter that features cute chibi characters like mini Luffy of One Piece or mini Sakura-chan from Cardcaptor Sakura, or 5 years ago I still collect Naruto wallpapers!!!
NOW my desktop backgrounds are.....
FOOD !!!!!!!!!!!
And LOTS of them.......
'Cause you know... Old people... need food.....
No?
Or maybe because as we get older, we just like to sit down and munch, rather than go out adventuring somewhere wild. Uh huh.....
Go on, deny it, because you can't. Look at the young teenagers, so full up of energy, running around to do crazy things. Older people? Having culinary-trips. Seriously admit it. You go all the way to other towns, not to do sailings, or flying fox things, or bungee-jumping (which I NEVER dare enough to try), or something. But to eat. And it's getting worse when you're old enough to have grandchildren. True story.... My own mom does it. With her friends. Willing to travel somewhere far away. Just to eat the local culinary.
And I think I already do the same thing. The last trip I went through, I ended up eating more than shopping.
-> When the shortened messages annoys me like a trapped ant in the pants....
Aaaah teenagers... So carefree, so thoughtless, so creative.... Okay back then, when the mobile phone can only use 160 characters per message, and the cost of the message itself is more expensive than it is right now, it's totally understandable to shorten your text. You know... Like using 'u' instead of 'you' ... 'thx' instead of the full 'thank you'... And I did it too, way back then... It's so cool and hip.
Now it annoys me a lot when young people replace 'nya' with 'x'... where the hell did that X come from??!
Or when they use numbers as letters. 53r10u5|_y? You have smartphones nowadays!
FULL QWERTY keypads. And the cost of the message doesn't really cost much by the way. But okay, maybe my old mind can no longer see it as cool and hip anymore.
And I finally have to surrender and admit, geez, I am no longer young.....
What other wake-up-calls for being old? Maybe now you have to work for living, instead of robbing the parent's money? Maybe now you have to maintain your image, instead of being so carefree?
Sunday, September 30, 2012
Wake Me Up When September Ends 25
http://simplincy.blogspot.com/2012/09/wake-me-up-when-september-ends-25.html
The past month without you, has taught me a lot of things.
Patience. Wisdom. Love.
How to appreciate our times before. To cherish small things that some people think are meaningless, yet they hold precious memories of you.
How to understand more about the path we took together.
Though the mysteries aren't quite clear yet on why we met, but I know, God has plans.
Through the heartbreak and tears, I learn, about how to love you truly.
" You can never really get over some one
because after you fall in love with them, they will always be a part of you, the best part.
- @damnitstrue "
Saturday, September 29, 2012
Wake Me Up When September Ends 24
http://simplincy.blogspot.com/2012/09/wake-me-up-when-september-ends-24.html
And every little corner of this city reminds me of you..... :(
Thursday, September 27, 2012
Wake Me Up When September Ends 23
“ The idea of waiting for something makes it more exciting. ”
“ Of all the hardships a person had to face,
none was more punishing than the simple act of waiting. ”
http://simplincy.blogspot.com/2012/09/wake-me-up-when-september-ends-23.html
Tuesday, September 25, 2012
Wake Me Up When September Ends 22
This night is an almost great night. Not too breezy night, not too hot either. Relaxing smooth jazz music on. Yummy drinks. There's only one thing missing from making this a great night.
You.
.bie.
.... missing and loving you as always
.bie.
.... missing and loving you as always
http://simplincy.blogspot.com/2012/09/wake-me-up-when-september-ends-22.html
Sunday, September 23, 2012
Wake Me Up When September Ends 21
Tulusnya cinta, meski tak lagi bersama, kadang rasa benci hadir dalam dada,
kamu tetap tak pernah melewatkan seharipun tanpa merindukannya.
- @pepatah
“Warning! Crazy person inside.”
|
V
http://simplincy.blogspot.com/2012/09/wake-me-up-when-september-ends-21.html
Saturday, September 22, 2012
Wake Me Up When September Ends 20
What's funny is, no matter how busy I am, I am still thinking and missing you.
http://simplincy.blogspot.com/2012/09/wake-me-up-when-september-ends-20.html
Friday, September 21, 2012
Wake Me Up When September Ends 19
21 SEPT 2012
http://simplincy.blogspot.com/2012/09/wake-me-up-when-september-ends-19.html
Feelings don't die. We all keep them alive by feeding them memories.
That's the exact reason why it is so hard to move on from a loved one.
- RT @damnitstrue
Thursday, September 20, 2012
Wake Me Up When September Ends 18
dari sekian banyak orang, di hidupmu, harus aku ?
http://simplincy.blogspot.com/2012/09/wake-me-up-when-september-ends-18.html
Be assured and understand that the trial and proving of your faith bring out endurance and steadfastness and patience.
Yakinlah dan mengertilah bahwa ujian dan pembuktikan iman anda membawa kegigihan dan ketekunan dan kesabaran.
Sebetulnya ujian atau pencobaan lumrah terjadi dalam hidup ini, tidak ada satupun dari kita yang dapat menghindarinya.
Perbedaannya dari sikap kita, kalau kita merasa terpukul dan berat, maka hidup yang kita jalani akan terasa demikian.
Bila percaya dengan iman bahwa Tuhan selalu memberi jalan keluar akan membuat kita merasa nyaman dan tenteram, sehingga kita dapat menikmati hidup ini didalam kasih karuniaNya.
Membuat kita semakin tekun dan gigih untuk memasuki semua rencanaNya, yang telah disediakan bagi kita.
Wednesday, September 19, 2012
Wake Me Up When September Ends 17
Sama seperti kita tidak bisa memaksa cinta itu datang ke hati,
kita juga tidak bisa memaksa cinta untuk pergi seketika dari hati.
~^~
http://simplincy.blogspot.com/2012/09/wake-me-up-when-september-ends-17.html
19 SEPT 2012
Banyak yang berspekulasi, "it will wear off soon..." "you can forget about him..." "you will get over it..." etc. . Meski memang pedoman Talking is easier than actually doing it sudah sering disebarluaskan, it seems like a very appropriate advice when people deal with broken-hearted person.
NOT.
Aku cuma mau bilang, bahwa melupakan bukan cara untuk bangkit dari keterpurukan. Apalagi jika tidak ada yang bisa benar-benar tahu apa yang dirasakan oleh seseorang, kecuali orang itu sendiri dan Tuhan ? Am I right ? Yes we can give our sympathy, supports, prayers. But the most important thing, empathy and understanding, that it is not an easy-peasy thing to do.
Hari ini aku berpikir, tentang apa itu keanehan cinta, dan sikap ironis orang terhadapnya. Cinta itu, bisa datang tak terduga. Jika kita bisa menerima kenyataan ciri dari cinta adalah dia bisa datang tanpa dipaksa, bukankah aneh jika kita memaksakan diri untuk mengusir cinta itu pergi?
Dear, you...
I don't know where you are right now.
I don't know what you are doing right now.
I don't know how you are right now.
I don't know what you feel, what you think about, right now.
But I know me.
I know what I feel.
What I think about. What I dream of.
And I know, that everything about you, is real.
And I'm not forcing myself to let you go. That will just make me love you more.
Ada sedikit komentar dari teman, mengapa cengeng ketika kehilangan orang yang kita cintai? Seharusnya dia yang sedih karena kehilangan orang yang begitu mencintainya.
Hahaha, good one. :)
Just like when I fell in love with you, unexpectedly.
Untuk dulu, hingga hari ini, entah sampai kapan, aku yakin untuk menyatakan,
kalau aku masih sayang kamu. Even when you don't give a damn about it.
Tidak banyak yang kuminta. Hanya cobalah untuk mengerti itu.
.bie.
Tuesday, September 18, 2012
Wake Me Up When September Ends 16
apabila seandainya Tuhan tidak memberikan kesembuhan pun, kita tetap harus meyakini kalau Tuhan memelihara
http://simplincy.blogspot.com/2012/09/wake-me-up-when-september-ends-16.html
Admins
This Blog is ...
a place to pour my heart, tears, stories...
deep.contemplation@gmail.com
nancy_nanz@hotmail.com
my ups.. my downs..
my bitter or sweet experiences, feelings, incidents..
my life.. my all...
deep.contemplation@gmail.com
nancy_nanz@hotmail.com
nancy.indrawati@gmail.com
Labels
- about (7)
- Alkitabiah (4)
- announcements (3)
- articles (6)
- bikinanSendiri (3)
- Boo's Corner (36)
- books (1)
- cool stuffs (4)
- daily (12)
- dog (7)
- foods_drinks (21)
- funny (9)
- life (39)
- melbourne (10)
- movies (5)
- open happiness (3)
- opinions (13)
- parenting 101 (1)
- solo (6)
- vacation (5)
Blogroll
-
-
2 months ago
-
6 years ago
-
8 years ago
-
8 years ago
-
8 years ago
-
13 years ago
-
16 years ago
-
-
-
Powered by Blogger.













